Mereka Sedang Bela Al-Aqsa Seperti di Perang Uhud

Mereka Sedang Bela Al-Aqsa Seperti di Perang Uhud

ACTNews, YERUSALEM - Tidur malam bagi mereka, Para Penjaga Al-Aqsa mungkin tak bakal nyenyak sejak hari-hari belakangan, hingga beberapa pekan ke depan. Membela dan menjaga Al-Aqsa telah menjadi dua hal yang mengalir dalam desir darah, menyatu dalam napas. Tensi terus dipompa, ketegangan tak pernah dipedulikan. Satu tujuan yang harus dijaga di dalam hati dan disuarakan dengan lantang: Membela Al-Aqsa harus sampai titik puncaknya.

Artinya seluruh peraturan dan peralatan yang membuat sulit masuk ke dalam Kompleks Masjid Al-Aqsa harus dikeluarkan seluruhnya. Bukan satu atau dua pintu yang dibuka, tapi mereka menunggu komitmen Zionis Israel untuk membuka seluruh pintu Al-Aqsa tanpa terkecuali. Melepas semua kamera pengawas, dan membongkar semua pintu penjagaan metal detektor yang terpacak di seantero Al-Aqsa.

Sejak 24 jam terakhir, tensi luar biasa memuncak nyaris di tiap sudut-sudut Komplek Suci Al-Aqsa. Kamis kemarin (27/7), azan Subuh belum berkumandang, namun sekitar belasan hingga puluhan ribu Pembela Al-Aqsa masih berkumpul di depan Gerbang Bab al-Asbath, salah satu gerbang paling besar untuk masuk ke dalam tempat-tempat sujud terbaik di dalam Al-Aqsa.

Teriakan takbir bergema lantang sekali. Diiringi sebaris kalimat yang punya daya magis luar biasa bagi siapapun yang mendengarnya: Birruh, Biddam, Nabdika ya Aqsa! Dengan darah, dengan ruh, kami bela kau ya Aqsa!

Bahkan bukan hanya Muslim Palestina yang sudah mematri pembelaannya atas al-Aqsa di dalam hati. Ada ribuan komunitas nasrani asal Palestina lain yang juga ikut ambil bagian. Doa-doa yang mereka panjatkan serupa, menuntut keras Zionis Israel melepas segala penghalang yang menyulitkan warga Palestina beribadah di dalam Kompleks Suci Al-Quds.

Bukan urusan sehari-dua hari mereka bergantian menjaga Al-Aqsa. Jika ditelusuri sejak kebebasan beribadah di al-Aqsa terenggut, sudah lebih dari 50 tahun upaya menjaga dan membela Al-Aqsa ini melekat dalam hati jutaan warga Palestina, diturunkan dari generasi ke generasi. Karena memang sepanjang hari, sepanjang tahun Zionis Israel selalu punya aturan main baru, aturan yang diterapkan si penjajah untuk mengambil alih kontrol seluruh kompleks suci Al-Aqsa.

Bela Aqsa seperti di Perang Uhud

Kamis subuh kemarin (27/7), beberapa menit jelang azan Subuh bergema di Al-Aqsa, sepasukan Zionis Israel itu akhirnya menuruti permintaan ribuan warga Palestina yang bergemuruh tak pernah tertidur. Pintu Al-Asbath akhirnya dibuka penuh oleh polisi keamanan Israel. Pekikan takbir pun makin lantang diteriakkan. Para penjaga Al-Aqsa atau yang dikenal dengan sebutan Mourabitat dan Mourabitoun seketika bersujud.  

Tapi, pintu gerbang Al-Asbath yang akhirnya dibuka tidak menjadi tujuan utama. Sebab, Kompleks Suci Al-Aqsa punya 11 (sebelas) pintu gerbang di sekelilingnya. Tuntutan ribuan warga Palestina ini senada; Zionis Israel harus melepas semua hal-hal yang menyulitkan warga Palestina untuk beribadah di dalam Al-Aqsa.

Medan perang Uhud yang dijalani Rasulullah dan sahabatnya ribuan tahun silam rupanya menjadi pemantik bara semangat itu. Dalam Perang Uhud, Rasulullah mengatakan pada pasukannya untuk tidak mundur sedikitpun dari medan perang jika bendera kemenangan belum digenggam.

Rasulullah mengajarkan umatnya para ksatria Perang Uhud untuk terus berjuang, tidak menjadi lemah, tidak boleh takut, karena rasa takut hanya menjadi bagian dari orang-orang kafir.

Bekal itulah yang kini dipompa dalam hati tiap pembela Al-Aqsa. “Kami mengambil pelajaran dari perang uhud, untuk tidak merayakan (pembukaan pintu Bab al-Asbath) hingga kami benar-benar menang,” kata Noura*, seorang warga Palestina yang melakukan kontak komunikasi dengan ACTNews, Kamis subuh (27/7) waktu Yerusalem.

Meski demikian, setelah gerbang Al-Asbath dibuka, salat subuh berjamaah tetap ditunaikan oleh ribuan warga Palestina di halaman luar Masjid Al-Aqsa. Saf-saf salat berjajar rapi di teras al-Aqsa. Selagi disekeliling mereka, ribuan polisi Zionis Israel bersenjata lengkap menenteng senjata, congkak dan angkuh sekali.

Sampai tulisan ini diunggah, Aksi pembelaan terhadap Al-Aqsa pun terus dilanjutkan. Committee Al-Aqsa (para imam, perwakilan mourabitoun dan pengurus kompleks Al-Aqsa) secara tegas menuntut pihak Israel melepas semua bentuk-bentuk pengawasan (kamera CCTV, gerbang metal detektor, dan penjagaan polisi Israel) dari seluruh pintu Al-Aqsa. []

*nama Noura disamarkan karena alasan keamanan