Mereka yang Berharap Hidup Lebih Baik dari Gaza

"Perahu terbalik, dan dua orang terjebak di bawah. Kami tidak dapat menyelamatkan mereka karena semua orang tenggelam. Saya sendiri merasa seperti akan mati. Namun, saya berjuang untuk menjaga kepala saya tetap di atas air," kata Yahya Barbakh, warga Palestina yang menceritakan upayanya melarikan diri dari Gaza melalui jalur laut.

perahu palestina tenggelam
Ilustrasi. Kapal pengungsi Palestina yang tenggelam saat mencoba memasuki wilayah Yunani. (Reuters/Alkis Konstantinidis)

ACTNews, GAZA – Serangan zionis Israel membuat warga Palestina hidup dalam ketakutan hebat. Sejak tahun 2014, ratusan keluarga di Gaza telah mempertaruhkan nyawa untuk meninggalkan Gaza demi mencari kehidupan yang lebih baik di lain benua.

Salah satu kisah diceritakan Yahya Barbakh (27), warga Palestina yang tinggal di Khan Younis, Gaza Selatan. Yahya pernah berusaha melarikan diri ke Eropa pada November lalu. Namun, perjalanannya berujung dengan kematian teman-temannya.

Pemuda itu telah kembali dari Turki beberapa hari setelah gagal bermigrasi ke Eropa. Kapal yang membawa Yahya dan sembilan warga Palestina lainnya terbalik pada 5 November saat berlayar dari kota pelabuhan Turki Bodrum ke Yunani. Dua orang kawan seperahunya meninggal dan satu orang hilang.

"Dua bulan lalu, saya memutuskan saya harus melakukan sesuatu tentang kehidupan menyedihkan yang saya jalani. Saya sudah melakukan semua yang saya bisa. Saya telah bekerja sebagai sopir, sebagai tukang cukur, dan mengambil setiap kesempatan untuk bekerja. Tetapi, pada titik tertentu, semua ini tidak cukup bagi saya dan keluarga," kata Yahya, ayah dua anak tersebut.

Yahya mengatakan, keluarganya telah menjual segala harta yang dimiliki sebagai persiapan biaya perjalanannya tersebut. Ia harus membayar mediator atau perantara yang akan membawanya keluar Gaza.

Ketika Yahya tiba di lokasi penyeberangan, ia menjumpai lusinan pengungsi, termasuk anak-anak, dari berbagai negara. Kebanyakan Suriah dan Palestina, mereka menunggu para perantara untuk membantu mereka bermigrasi.

Menurut Yahya, para perantara biasanya mengancam para imigran dengan menelepon polisi ketika mereka menolak untuk naik. Mereka juga memaksa para migran naik perahu dengan todongan senjata.

"Tidak lama setelah kami mulai berlayar, angin meniup perahu dan air mulai mengalir masuk. Kami panik dan menggunakan segala yang kami miliki untuk mengeluarkan air. Beberapa dari kami melepas kemeja dan jaket kami untuk merendam air dan memeras kembali ke laut." ceritanya.

Yahya pun tidak berdaya menyaksikan dua orang, termasuk temannya yang telah merencanakan perjalanan bersamanya, langsung tenggelam setelah perahu terbalik.

"Perahu terbalik, dan dua orang terjebak di bawah. Kami tidak dapat menyelamatkan mereka karena semua orang tenggelam. Saya sendiri merasa saya akan mati. Namun, saya berjuang untuk menjaga kepala saya tetap di atas air,” cerita Yahya.

Sekitar dua setengah jam kemudian, Yahya pingsan. Ia terbangun di atas kapal penjaga pantai Turki. Ia terbangun dan hanya melihat satu orang berbaring di sampingnya. Yahya dengan isyarat tangan mencoba memberi tahu penjaga pantai bahwa ada orang lain di kapal yang terbalik itu.

"Saya baru tenang ketika saya melihat mereka menarik lebih banyak orang hidup-hidup dari air. Pada akhir hari, hanya tujuh dari kami yang masih hidup. Mereka mengeluarkan dua jenazah, dan satu orang masih hilang," tambah Yahya.

Meskipun Yahya tahu bahwa perjalanannya tidak akan mudah, dia tidak menyangka bahwa dia akan berakhir di Gaza lagi. “Kami tidak punya masa depan di sini. Ayah saya sudah meninggal, dan saya harus mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga saya, termasuk ibu dan saudara-saudara saya. Saya pikir, ketika saya tiba di Eropa, saya akan bekerja di profesi apa pun. dan mengirim uang keluarga saya." ujarnya.

Menurut Bank Dunia, tingkat pengangguran di Gaza mencapai lebih dari 50 persen, sementara lebih dari separuh penduduknya hidup dalam kemiskinan. Setelah agresi militer Israel di Gaza pada Mei lalu, 62 persen penduduk Gaza juga terjebak dalam kondisi kerawanan pangan.[]