Mereka yang Wafat dan Belum Sempat Terurus

Mereka yang Wafat dan Belum Sempat Terurus

ACTNews, PALU - Masuk hari keempat pascagempa dan tsunami yang melanda Donggala dan Palu, proses evakuasi masih berlangsung. Sampai Senin (1/10) kemarin, kabar terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, korban meninggal dunia sudah di angka 844 jiwa. Sedangkan, data orang hilang masih mencapai ratusan jiwa.

Puluhan ribu orang pun mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal dan rasa trauma. Sebagian besar rumah warga di pesisir hancur karena tsunami, beberapa wilayah di Palu Barat dan Timur tenggelam karena fenomena likuifaksi, dan puluhan puluhan ribu rumah di Palu, Donggala, Sigi, Parigi Moutong runtuh akibat gempa.

Salah satu getir duka yang begitu terasa terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Undata, Palu, Sulawesi Tengah. Bangunan rumah sakit yang tak jauh dari Universitas Tadulako itu masih tampak berdiri tegak di bagian instalasi gawat daruratnya. Pun dengan pagar bangunan yang masih rapi.

Namun, di halaman parkir depan rumah sakit, kepiluan menghampar seiring dengan aroma busuk yang mulai menusuk karena proses pembusukan yang begitu cepat. Di halaman parkir, berjejer jenazah korban gempa bumi dan tsunami. Ada yang terbungkus kantong jenazah, juga ada yang hanya ditutupi kain seadanya. Bahkan, beberapa lainnya tidak tertutupi sehelai kain sama sekali, karena persediaan kantong jenazah yang masih terbatas. Tubuh jenazah tampak mulai menghitam akibat terlalu lama terendam dalam air laut.

Evakuasi jenazah untuk segera dimakamkan

Sudah sejak Senin (1/10) pagi kemarin, aroma tak sedap tercium dari jarak puluhan meter dari RSUD Undata. Aroma tak sedap bahkan sudah tercium sejak malam pertama gempa dan tsunami. Daerah yang basah karena tergulung tsunami membuat proses pembusukan semakin cepat.

Jenazah yang tak terurus ini pun segera dievakuasi oleh Tim Emergency Response ACT. Tim ACT bergegas untuk membantu mengurus jenazah, agar bisa segera dimakamkan. Namun, kantong jenazah yang masih langka sempat jadi hambatan. Aria Rahadyan, salah satu Tim ACT di lokasi menceritakan, kantong jenazah baru tiba di RSUD Undata menjelang petang.

“Jelang Maghrib jenazah yang tak terurus sejak beberapa hari ini segera dimasukkan ke kantong jenazah oleh Tim ACT. Evakuasi dilakukan dibantu juga dengan beberapa relawan lain,” tutur Aria.

Kusmayadi, Koordinator Tim ACT di Palu menceritakan, bukan karena sengaja membiarkan jenazah tergeletak begitu saja. Menurutnya, kondisi Palu sampai Senin (1/10) petang kemarin masih kalut. Jenazah yang ditemukan terus bertambah, pasokan logistik terhambat, dan jumlah relawan yang sangat terbatas mengingat akses jalan menuju Palu masih belum terbuka sepenuhnya.

“Seluruh unsur SAR terkait masih berfokus melakukan evakuasi korban meninggal akibat tsunami dan gempa. Kami melihat, masih sangat banyak jumlah korban yang belum ditemukan. Maka dari itu, ketika korban meninggal sudah ditemukan dan dibawa ke rumah sakit terdekat, masalah baru datang, ketika jenazah tak segera dikuburkan dan berbahaya bagi kesehatan pengungsi lain yang selamat,” ujarnya.

Setelah jenazah diurus, Senin (1/10) kemarin, ratusan jenazah yang ditemukan akhirnya telah dimakamkan lewat pemakaman massal. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusdatin BNPB mengatakan, pemakaman massal dilakukan di TPU Paboya. Kota Palu.

“Sudah digali 1.000 lubang di sana. Sebelum dimakamkan secara massal kami lakukan doa bersama, kata Sutopo, saat konferensi pers, Senin (1/10).

Sampai hari ini, tim ACT masih terus berusaha ke daerah-daerah yang masih terisolir. Senin kemarin Tim ACT kini mencoba mencapai Desa Lende, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulteng. Desa ini berbatasan langsung dengan bibir pantai tempat "air laut berdiri" sebutan warga lokal untuk gelombang tsunami masuk hingga ke daratan.

Sementara itu, Selasa (2/10) ini, Kusmayadi mengatakan Tim ACT bergerak melakukan evakuasi ke wilayah Palu Barat, pesisir Teluk Palu, dan mengurus jenazah yang sudah ditemukan di beberapa rumah sakit. []