Meski Penuh Sandungan Dalam Berjualan, Firdaus Sering Temui Kebaikan

Penghasilan Firdaus (39) dalam berjualan cilok seringkali tak mencukupi kebutuhan. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan usahanya untuk terus berkeliling mencari nafkah demi tanggung jawab terhadap keluarga.

borong dagangan umkm
Keuntungan dari jualan cilok, kemudian akan disetor Firdaus kepada pemilik usaha dengan sistem bagi hasil. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Firdaus (39) hanya menatapi orang-orang berlalu lalang di pinggir Jalan Siaga Raya, Kelurahan Pejaten Barat, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tepat di pangkal sebuah pertigaan, ia bersama gerobaknya menepi sembari menunggu pembeli pada Kamis (13/8/2021) sore.

“Ini baru banget sampai, keluarnya memang sore. Biasanya nanti keliling lagi di sekitaran sini saja,” ujar Firdaus sambil mengemas beberapa cilok hangat untuk Tim Global Wakaf-ACT yang membeli dagangannya.

Firdaus memang mengidap keterbatasan fisik, tapi hal itu tak turut membatasi semangatnya. Setiap hari ia berkeliling dan berjualan sampai malam dengan sistem bagi hasil. “Jadi nanti saya setor, misalnya dapat Rp150 ribu, saya dapat Rp50 ribu. Yang Rp50 ribunya untuk sana (pemilik usaha). Pernah paling kecil saya dapat untuk untung saya sendiri itu Rp15 ribu sehari,” cerita Firdaus.


Untuk pemasukan keluarga, ia dibantu juga oleh istrinya yang bekerja sebagai buruh cuci. Penghasilan yang belum menentu dari keduanya, menjadi kendala untuk memenuhi kebutuhan.

Firdaus sendiri punya prinsip bahwa selagi mampu lebih baik tak berutang. Walaupun begitu, ia sempat terdesak harus berutang ke orang terdekat demi memenuhi kebutuhan keluarganya. “Habisnya anak minta susu, ya mau bagaimana lagi, kan?” kata Firdaus.

Terbesit keinginan untuk berdagang sendiri, tetapi sampai sekarang Firdaus belum mampu. Modal menjadi sandungannya untuk bisa memulai usahanya sendiri. Di sisi lain, anak dan istri juga butuh dinafkahi, sehingga sementara waktu ia mesti mengubur keinginannya terlebih dahulu. “Buat beli gerobaknya saja, mahal banget,” katanya.


Firdaus terharu ketika menerima bantuan dari Global Wakaf-ACT. (ACTNews)

Meskipun rasanya cukup sulit, beruntung kebaikan sering datang untuk Firdaus. Misalnya dalam berjualan, ia tak ditargetkan untuk habis. Kemudian kontrakan yang biasanya dibayar satu bulan langsung, dapat dicicil juga oleh Firdaus. “Ya, alhamdulillah ada saja rezekinya,” ujar Firdaus.

Rezeki pada hari itu kembali mampir ke tangan Firdaus melalui Global Wakaf-ACT. Cilok yang harusnya dibayar seharga beberapa puluh ribu, kali ini dihargai lebih banyak dalam program Borongin Modalin Pedagang Kecil. Firdaus tak mampu menahan air matanya. Dengan gulungan beberapa lembar Rp50 ribu di tangan, dan tangis haru, ia memeluk Tim Global Wakaf-ACT. []