Meski Sulit, Mulyani Sisihkan Sebagian Keuntungan untuk Berbagi

Terkena PHK hingga dagangan sepi, Mulyani tidak berhenti untuk berbagi. Baginya, sedekah adalah bentuk ungkapan rasa syukur atas nikmat Allah yang harus dilakukan setiap waktu.

mumuy rajin sedekah
Mulyani bersama anaknya saat diwawancarai ACTNews. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Mulyani sibuk memasukkan kotak-kotak makanan ke dalam plastik. Di dalam satu kotak makan, terdapat nasi, ayam goreng, lalapan, dan sambal. Masing-masing plastik berisi 20 kotak makan dan terdapat empat kantong plastik besar yang diisi, Jumat (10/9/2021) siang.

Rutinitas tersebut rutin dijalani Mumuy-sapaannya-sejak berjualan ayam bakar Maret 2021 lalu. Nasi-nasi yang Mumuy siapkan saban Jumat bukanlah untuk dijual, melainkan untuk dibagikan kepada warga prasejahtera di sekitarnya. 

“Orang-orang sini bilang Jumat Berkah. Apapun namanya, saya hanya ingin bersedekah,” kata Mumuy saat ditemui tim ACTNews di rumah kontrakannya di Situ Gede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Jumat (10/9/2021).

Selain di hari Jumat, saban harinya Mumuy juga menyisihkan sebagian keuntungannya. Dalam setiap porsi makanan yang ia jual Rp15 ribu, Rp3 ribu ia sisihkan untuk disedekahkan. Saat masih bekerja, Mumuy sudah melakukan hal yang sama, menyisihkan sebagian gaji untuk membantu warga prasejahtera. 

Di balik kedermawanannya, Mumuy memiliki kehidupan yang pilu dan sulit. Akibat pandemi Covid-19, Mumuy di-PHK dari pekerjaannya sebagai admin di salah satu perusahaan penyedia jasa perjalanan. Sementara usaha pakaian sang suami bangkrut, juga karena dihantam pandemi Covid-19. 

“Saya dan suami berjualan ayam bakar. Karena sepi, akhirnya tidak sanggup bayar sewa lapak juga kontrakan. Sebulan bayar Rp1,3 juta untuk bayar sewa lapak dan kontrakan. Kita memutuskan berjualan ayam bakar dan goreng dengan sistem PO (prapesan),” jelas Mumuy. 

Dalam sehari, Mumuy bisa menjual 10-15 porsi. Seiring berjalannya waktu dan kebijakan PPKM Darurat, hanya tiga porsi terjual. Saat ini, pesanan yang masuk pun tidak pasti. “Kami menyiapkan tiga kilo ayam, terjual sedikit. Lama kelamaan ayam busuk, kita rugi,” ungkap ibu satu anak itu.

Berjuang demi anak

Selain jualan yang sepi, anak Mumuy juga menderita penyakit lumpuh otak (cerebral palsy) sejak umur sembilan bulan. Lebih dari satu tahun sang anak tidak bisa terapi lantaran pandemi dan ekonomi. 


Mumuy menunjukkan isi kotak makanan gratis yang saban Jumat dibagikan. (ACTNews)

“Fisioterapis tidak membuka praktik. Saya juga ke rumah sakit harus bawa ongkos, sedangkan jualan lagi sepi. Lama enggak terapi, kondisi anak kembali menurun. Alhamdulillah, selama terapi di rumah sakit gratis,” ungkapnya. 

Meski kehidupannya serba sulit, Mumuy bertekad terus berbagi. Mumuy mengaku tidak tega jika melihat orang lain susah. Bagi Mumuy, Keadaan hidupnya saat ini adalah yang paling baik, yang Allah berikan. 

“Intinya kita harus tetap bersyukur dengan keadaan ini. Kuncinya tidak perlu melihat kehidupan orang yang sepertinya lebih baik, karena kita akan terus merasa kurang dan mengeluh,” pungkasnya.[]