Mewaspadai Kemarau Panjang di Indonesia

Antisipasi mesti dilakukan untuk mencegah bencana kekeringan melanda negeri seperti tahun lalu.

Mewaspadai Kemarau Panjang di Indonesia' photo

ACTNews, GROBOGAN - Sejumlah warga mengantre air dari kubangan yang telah mereka ciptakan sendiri dari dasar sungai yang telah mengering. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang ingin mengambil air untuk mandi dan pergi ke sekolah. Pemandangan itu sudah dua bulan ini nampak di Desa Keyongan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Beramai-ramai mereka membawa jeriken dan galon, sabar mengular di depan lubang galian sedalam satu meter tersebut. Belik, sebutan warga sekitar untuk lubang itu. Dalam waktu sepuluh menit, belik dapat menampung empat puluh liter air.


Sumber foto: Kompas.com

Bocah-bocah mungil itu berlarian, tak nampak muram dari wajah mereka meskipun harus menggotong ember berisi air ke rumahnya. "Mau bantu bapak dan ibu, karena mereka harus ke sawah. Setiap pagi, kami bareng-bareng ambil air di belik. Airnya kotor, namun tak apa untuk minum dan mandi. Kami sudah biasa," tutur Rahayu (8), siswi kelas 3 SD asal Desa Keyongan ini kepada Kompas.com Rabu (26/6) lalu.

Kabupaten Grobogan menjadi wilayah yang terdampak kekeringan pada Juli ini. Analisa dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat menyatakan prakiraan musim kemarau 2019 ini akan lebih kering dibandingkan tahun lalu.

“Waspada kekeringan di periode musim kemarau ini, karena diprediksi tahun ini akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Daerah yang tahun lalu pada periode Juni, Juli dan Agustus terkena kekeringan, tahun ini harus lebih waspada lagi,” ujar Kepala Subbidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi pada Jumat (22/6), dilansir dari Antara.

BMKG memprakiraan hampir seluruh Jawa mengalami kemarau dan mencapai puncaknya pada bulan Juli sampai Agustus 2019. Sementara untuk Nusa Tenggara Timur (NTB), NTT, Sulawesi dan Sumatera juga perlu mewaspadai kemarau yang mencapai puncaknya pada bulan Agustus sampai dengan September.


Menurut laporan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memang pada tahun 2018 terdapat beberapa daerah mengalami bencana kekeringan. Kekeringan antara lain melanda wilayah Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Lampung sehingga warga daerah-daerah tersebut kesulitan air bersih.

Di NTB misalnya, warga mulai terkena dampak kekeringan. Badan Penanggualan Bencana Daerah (BPBD) setempat bahkan telah menyediakan antisipasi berupa distribusi air ke wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

"Penanganan rutinnya pastinya kita siapkan penangananan air bersih melalui distribusi dengan mobil tangki," ujar Kepala BPBD NTB Ahsanul Khalik, dilansir dari Republika.co.id, Senin (24/6). Antisipasi dilakukan mengingat NTB adalah salah satu daerah yang mengalami bencana kekeringan pada tahun 2018 lalu.

Menurut Ahsanul, memang sampai kini belum ada laporan resmi dari pemerintah kabupaten ataupun kota mengenai kekeringan. Namun informasi yang ia dapatkan sendiri, sejumlah wilayah di Kabupaten Bima, Dompu, dan Lombok mulai mengalaminya, meskipun bukan berasal dari laporan resmi. Waduk dan sumur bor telah dibangun tahun ini untuk mengantisipasi kekeringan di wilayah tersebut. []


Bagikan