Mimpi dan Usaha Menjaga Resep Warisan Almarhumah Sang Ibu

Usaha warisan yang dijalankan Yulianti dari almarhumah ibunya hampir tutup sebab Covid-19 sampai akhirnya usaha itu bisa berjalan lagi setelah lebaran walau masih sulit. Yulianti yang juga bekerja sebagai guru, terus memperjuangkan usaha ini dan punya bayangan besar menjadikan usaha kuliner soto betawi ini menjadi restoran.

Mimpi dan Usaha Menjaga Resep Warisan Almarhumah Sang Ibu' photo
Soto buatan Yulianti dan suaminya. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Sudah 7 tahun Yulianti (39) berjualan soto mi dan betawi. Mulanya, usaha ini ia tekuni karena sang ibu yang merupakan pemilik usaha tersebut jatuh sakit dan tak lama berpulang. Yulianti dibantu oleh sang suami yang merupakan korban dari pengurangan karyawan di perusahaan tempatnya bekerja, kemudian mempelajari resep turun temurun orang tua mereka.

Dengan tekad yang kuat, usaha warisan tersebut diteruskan guna kelangsungan hidup keluarganya serta untuk membuat almarhumah ibundanya bangga. Yulianti yang juga merupakan seorang guru ini memiliki impian, suatu saat membuat sebuah restoran yang menyediakan hasil masakan resep warisan ibunda dengan cita rasa yang tidak kalah dan patut diacungi jempol karna ciri khas sendiri.

Pada dasarnya, usaha soto mi dan soto betawinya ini sudah banyak dikenal oleh kalangan sekitar dan kerabat Yulianti di sekolahnya. Lagi-lagi akibat pandemi, usahanya mulai merosot dan menjadi sepi pembeli. Hingga pada akhirnya Yulianti menghentikan sementara usahanya pada saat bulan ramadan dan memulai kembali selepas lebaran.


“Sebelum pandemi bisa mencapai Rp700 ribu per hari. Namun kini, mendapat Rp200 ribu per hari saja sudah alhamdulillah, menurut Ibu Yulianti. Yang biasanya banyak pesanan dalam porsi besar untuk acara-acara, kini hanya mengandalkan pembeli yang ada di sekitar rumahnya, ataupun melalui aplikasi ojek daring,” kata Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT ketika menemui Yulianti di rumahnya di daerah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Kamis (10/9) silam.

Di sisi lain, aktivitas Yulianti sebagai guru masih belum efektif karena tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolah. Akibatnya, upah yang diterima Yulianti pun menjadi tidak dibayarkan penuh. Terlebih beliau memiliki pinjaman koperasi di tempatnya bekerja untuk kebutuhan masuk sekolah buah hatinya dan kebutuhan lain. Alhasil, hanya Rp300 ribu upah yang didapat Yulianti tiap bulannya.

Sementara usaha soto mi dan soto betawinya ini juga nyaris tutup karena keraguannya di tengah kondisi yang tak pasti. Namun, sang suami bersikeras meyakinkan Yulianti dan selalu berpikir postif bahwa usaha warisan ini akan tetap berjalan asalkan selalu disertai niat yang baik, usaha, dan tentunya doa yang selalu dipanjatkan kepada Sang Pencipta.


Yulianti bersama suaminya ketika menerima Wakaf Modal Usaha Mikro di depan warungnya Kamis (10/9) lalu. (ACTNews)

Doa itu terjawab lewat Wakaf Modal Usaha Mikro dari Global Wakaf – ACT. “Dengan modal ini, beliau dapat membeli bahan baku dan sebuah kompor gas khusus untuk usaha karena sebelumnya beliau masih menggunakan kompor gas yang ada di dapur belakang rumahnya. Hal tersebut dilakukan agar Ibu Yulianti dan suami tidak lagi kesulitan apabila ingin meracik soto apabila ada pembeli yang mengharuskan ke dapur lalu ke depan rumahnya lagi. Beliau juga trauma akan terjadi peristiwa hampir kebakaran karena lupa mematikan kompor gas,” terang Wahyu.

Yulianti punya bayangan besar apabila keadaan sudah normal nantinya. Jika aktivitasnya sebagai guru sudah efektif seperti semula, nantinya suaminya yang akan fokus menjalankan usaha. Ia kemudian ingin membuat media promosi seperti brosur guna untuk memperluas eksistensi usahanya serta mengembangkan usahanya menjadi makanan beku agar bisa dibeli secara instan.

“Alhamdulillah dengan bantuan Global Wakaf – ACT dalam perkembangan usaha saya, dan ke depannya, saya ingin lebih baik lagi untuk usaha saya lebih maju lagi. Untuk rencana ke depan sih, ingin punya restoran soto betawi sendiri. Mudah-mudahan ke depannya dapat terealisasi,” kata Yulianti mengulang mimpinya.

Wahyu pun berharap akan lebih banyak lagi para pelaku UMKM yang dapat terbantu dengan adanya Wakaf Modal Usaha Mikro. ”Kami berharap selain dapat membantu mereka di masa-masa sulit ini, kita juga dapat membantu para penerima manfaat mewujudkan impiannya seperti Ibu Yulianti. Oleh karenanya, kami berharap para dermawan dapat berpartisipasi dalam program ini agar lebih banyak lagi pelaku usaha yang dapat kami sapa,” ajaknya. []