Minat Generasi Santri Muda pada Pertanian

Puluhan anak muda ikut turun ke sawah yang dipenuhi lumpur di Desa Jiyu, Kutorejo, Mojokerto pada akhir Desember 2020 lalu. Mereka ialah santri yang memiliki minat besar pada pertanian dan ingin membawa pertanian menjadi salah satu solusi permasalahan umat.

Iqbal saat ditemui di area persawahan yang ditanami bibit unggul oleh Global Wakaf-ACT di Desa Jiyu, Mojokerto pada akhir Desember 2020 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MOJOKERTO – Terhitung sudah empat tahun Iqbal menimba ilmu pendidikan tinggi di Pesantren Riyadlul Jannah di Pacet, Mojokerto. Remaja asal Kota Medan ini mempelajari beragam ilmu, khususnya ekonomi. Namun, salah satu yang menarik bagi Iqbal ialah pertanian.

Tak heran, pada Sabtu (26/12/2020) lalu, Iqbal terlihat sibuk bersama petani lain di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Mojokerto. Ia ikut terlibat dalam kegiatan tanam raya yang Global Wakaf-ACT gelar di Desa Jiyu menggunakan dukungan dana wakaf masyarakat. Ia hilir mudik dari tempat penyemaian benih padi unggul ke lahan sawah yang siap ditanami. Kaki dan tangan dipenuhi lumpur serta terik matahari tak menyurutkan semangatnya. Baginya, belajar bertani merupakan hal menyenangkan yang ia tak dapatkan di kampung halamannya.

“Seru ya mas. Dari pertanian, saya dapat banyak hal,” ungkapnya kepada ACTNews.

Malu seakan tak dikenal Iqbal di tahapan belajarnya saat ini yang mengharuskannya bersentuhan langsung dengan sawah yang identik dengan tempat kotor. Malah ia merasa bangga karena tak semua pemuda seusianya bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Ke depannya, Iqbal mempunyai harapan dan cita-cita besar di bidang pertanian, khususnya menjadi bagian dalam pencapaian kedaulatan pangan yang juga Global Wakaf-ACT sedang gaungkan.

Iqbal sendiri merupakan bagian dari Santri Taruna Tani (Santani) yang merupakan binaan dari Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia atau YP3I yang diketuai oleh Marzukie Alie. Santani ini lah yang juga mengambil peran dalam misi mencapai kedaulatan pangan, mulai dari proses penyemaian, perawatan, hingga panen bersama para masyarakat tani lainnya.

Melibatkan banyak pihak

Kedaulatan pangan yang sedang Global Wakaf-ACT wujudkan ini tak hanya melibatkan para santri yang tergabung di Santani saja. Akan tetapi, juga melibatkan YP3I beserta tokoh-tokohnya, masyarakat petani di Desa Jiyu yang menjadi lokasi tanam raya di akhir tahun 2020 lalu, serta wakif yang menyalurkan wakaf produktifnya melalui Global Wakaf-ACT.

Nantinya, saat panen datang, masyarakat yang terlibat dari bagian program pemanfaatan dana wakaf di sektor produktif ini semakin banyak. Mulai dari para buruh tani, supir logistik, pengelola Wakaf Distribution Center, relawan Masyarakat Relawan Indonesia hingga puncaknya diterima oleh penerima manfaat yang merupakan santri, masyarakat prasejahtera, hingga korban bencana alam di berbagai wilayah.

Sri Eddy Kuncoro dari tim Global Wakaf-ACT mengatakan, kebaikan wakaf ini bisa lebih besar dan luas lagi karena memperhatikan potensi wakaf di Indonesia yang sangat besar. Potensi ini jika dikelola untuk sektor produktif, pertanian salah satunya, maka manfaatnya akan terus mengalir  ke banyak orang. “Wakaf merupakan salah satu ibadah yang manfaatnya sangat banyak dan bisa dinikmati langsung oleh masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik dan tepat, dalam prosesnya pun melibatkan banyak pihak yang tentunya bisa merasakan dampak baiknya,” jelas Eddy.

Dalam rilisnya, Badan Wakaf Indonesia pada tahun 2011 lalu menyebut bahwa potensi wakaf di Indonesia paling kecil ialah Rp3 triliun. Sayang, potensi besar itu belum terhimpun dengan baik karena terkendala kesadaran masyarakat untuk berwakaf masih rendah. Padahal jika potensi besar tersebut bisa dimaksimalkan dengan baik, maka tak menutup kemungkinan kemakmuran akan dirasakan oleh semua orang.[]