Minim Pangan Lesukan Ramadan di Yaman

Minim Pangan Lesukan Ramadan di Yaman

ACTNews, SANA’A, Yaman - Perang sipil di Yaman telah menginjak tahun ketiganya. Bagi para penduduk Yaman, tahun ini juga merupakan tahun terparah. Sebab, perang sipil telah menjelma menjadi konflik multidimensi yang memerlukan penyelesaian secara holistik untuk menanggulanginya.
 
Carut marut menyebabkan lebih dari 10.000 orang telah meninggal, dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal dan harapan. Yaman pun berubah menjadi negara yang semakin terbelakang. Sebelum perang, Yaman merupakan negara paling miskin di Semenanjung Arab, dengan data tahun 2012 menunjukkan 44% populasinya mengalami kekurangan nutrisi dan 5 juta penduduknya membutuhkan pertolongan darurat. Setelah perang, isu-isu lain bermunculan.
 
Masalah pertama adalah krisis air. Ibukota Sana'a diprediksikan akan kehilangan sumber air bersih pada tahun 2017 atau tahun ini. Air keran hanya mengalir sekali dalam beberapa hari. Padahal, Sanaa dapat dikatakan wilayah yang paling maju di antara daerah lain di Yaman. Krisis air bersih ini pun berbuntut pada penyebaran epidemik kolera. Pada akhir Mei 2017, WHO menyatakan wabah kolera telah menelan sekitar 530 jiwa di Yaman, dari 65.000 kasus yang diperkirakan. Lebih dari itu, WHO memproyeksikan jumlah tersebut dapat mencapai angka 3 juta kasus dalam enam bulan ke depan. Dalam satu hari saja, sekitar ada 3000 sampai 5000 kasus baru yang dilaporkan.
 
Perang yang melumpuhkan aktivitas juga mengakibatkan stagnansi ekonomi. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan. Mereka yang masih memilikinya, menerima gaji yang direduksi. Bahkan, gaji pegawai negeri sipil Yaman telah ditahan selama sembilan bulan lamanya. Sementara itu, biaya melambung tinggi dan banyak bisnis yang gulung tikar karena ketiadaan suplai dan permintaan. Rumah tangga tidak mampu belanja kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, Yaman pun menghadapi krisis makanan.
 
Akhir Oktober 2016, Stephen O’Brien sebagai Direktur Badan Kemanusiaan PBB, mengeluarkan pernyataan pada Dewan Keamanan PBB, bahwa krisis makanan Yaman dapat meningkat statusnya menjadi bencana kelaparan apabila bantuan kemanusiaan tidak diberikan. Pernyataan tersebut muncul menyusul tersebarnya foto Saida Ahmad Baghili, perempuan 18 tahun yang terkena malnutrisi parah, di media internasional.
 
 
Ramadan dengan Minim Pangan

Kondisi tersebut nyatanya masih berlanjut hingga Ramadan menyapa. Ramadan yang biasanya mereka rayakan dengan ibadah yang khusyuk, justru mereka jalani dengan kekhawatiran akan pangan. Di Sana'a, para orangtua harus berkeliling kota pada siang hari untuk mengumpulkan makanan berbuka. Tetapi, makanan tersebut tidak memadai untuk mengembalikan tenaga saat berbuka atau membersiapkan puasa hari selanjutnya saat sahur.
 
"Ramadan adalah momen spesial kami, umat muslim di Yaman. Sayangnya, saya tidak sebegitu gembira dibandingkan Ramadan-Ramadan yang lalu ketika perang belum pecah. Sekarang harga bahan makanan pokok sangat melonjak. Pun sangat sulit mencari uang di sini," ungkap Mohamed Al-Mokhdari, salah satu warga Sana'a, kepada Al Jazeera.
 
Akibatnya, sebagian anak-anak juga harus bekerja, tak terkecuali anak-anak Mohamed. Ayah dari 10 anak ini berkisah, dua anaknya mengumpulkan botol plastik bekas untuk dijual kepada tempat pengolahan ulang. Semua demi bisa bertahan selama hari-hari Ramadan ke depan. Tanpa pekerjaan, ia sulit memberikan panganan yang bergizi kepada keluarganya selama Ramadan.
 
"Membeli nasi dan roti saja sulit, bagaimana mau membeli ayam, daging, sayur, atau buah-buahan? Mimpi sepertinya," lanjut Mohamed. Selama Ramadan ini, ia dan keluarganya biasa berbuka puasa dengan roti dan yoghurt.
 
Ramadan seharusnya menjadi bulan yang disambut gembira umat Muslim di seluruh dunia. Tidak lengkap rasanya, bila umat Muslim tidak merasakan kebahagiaan yang sama. April lalu, Aksi Cepat Tanggap telah mendistribusikan bantuan pangan untuk sekitar 500 keluarga atau 2.800 pengungsi internal yang tersebar di provinsi Sana'a dan Ma'rib. Insya Allah, Aksi Cepat Tanggap akan kembali menyapa saudara-saudara di Yaman. Sepanjang Ramadan nanti, ACT akan berbagi paket berbuka puasa bagi pengungsi internal atau warga pra-sejahtera yang sangat membutuhkan, Insya Allah. [] 
 
 
 
Sumber Foto: ACT, Reuters, Guardian