Minimnya Air Berdampak pada Berbagai Sektor Kehidupan Warga Sigi

Kerap kali Desa Potoya, Kabupaten Sigi dilanda kekeringan, sementara air berperan sangat vital untuk kehidupan masyarakat di Desa Potoya. Tak ada air berarti sulitnya akses pekerjaan, pendidikan, keagamaan, dan kesehatan.

Minimnya Air Berdampak pada Berbagai Sektor Kehidupan Warga Sigi' photo
Salah seorang warga sedang mengambil wudu di masjid di Desa Potoya. (ACTNews)

ACTNews, SIGI – Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Sigi, Sulawesi Tengah, kerap kali dilanda kekeringan. Karakter tanah daerah tersebut adalah tanah yang tandus. Dengan kondisi tanah seperti ini, beberapa daerah di Desa Potoya, mengalami penurunan air sehingga terdapat beberapa sumur warga yang kering dan kehabisan air.

Saat kekeringan, warga yang ada di Desa Potoya memiliki aktivitas baru mereka karena setiap sorenya harus berkeliling mencari air akibat kekeringan yang terjadi di desa ini, termasuk anak-anak,” kata Moch Nurul Ramadhan dari Tim Global Wakaf – ACT.

Kekeringan memengaruhi banyak sisi kehidupan masyarakat, seperti matapencaharian. Hampir seluruh masyarakat yang ada di desa ini setiap harinya menghabiskan waktu untuk bekerja sebagai petani. Namun karena kekeringan yang melanda, mereka tidak bisa lagi bertani sehingga banyak yang beralih pekerjaan menjadi buruh bangunan.

Demikian juga dengan kegiatan keagamaan dan pendidikan. Kegiatan-kegiatan keagamaan biasanya berpusat di masjid. Namun, terkadang sulitnya memperoleh air untuk wudu akibat  kekeringan bekerpanjangan yang terjadi di daerah Potoya berdampak padah terganggunya kegiatan ibadah masyarakat.


Pekerjaan bangunan menjadi salah satu pekerjaan alternatif ketika sawah dan ladang tak lagi bisa diandalkan. (ACTNews)

“Sumur-sumur warga banyak yang tidak berfungsi, sehingga warga kesulitan untuk memperoleh air untuk aktivitas sehari-hari ataupun untuk wudu,” ungkap Nurul.

Ditambah juga sisi kesehatan yang terdampak karena ketiadaan air bersih. Kebersihan jadi kurang terjaga dan banyak penyakit yang kemudian datang. “Selain itu kurangnya MCK di rumah-rumah warga berdampak pada maraknya penyakit diare dan berbagai penyakit kulit lainnya akibat kurangnya sumber air bersih,” tutur Nurul.

Rata-rata masyarakat yang ada di Desa Potoya memang belum memiliki sumber air bersih karena di desa ini tidak terdapat sungai ataupun air dari PDAM. Satu-satunya sumber air warga hanya berasal dari sumur yang saat ini banyak yang sudah tidak berfungsi karena kehabisan air.

“Saat kekeringan warganya biasanya menggunakan sumur-sumur dangkal yang masi memiliki air secara bersama-sama. Satu sumur biasanya di gunakan oleh sekitar lima keluarga. Namun karena air terbatas, terkadang banyak warga yang tidak kebagian air. Jika sudah begitu untuk memenuhi kebutuhan air biasanya mereka hanya mengharapkan bantuan dari mobil pengangkut air yang kapasitas bantuannya terbatas,“ kata Nurul.

Untuk membantu permasalahan air bersih di Desa Potoya, Global Wakaf – ACT membangun satu unit Sumur Wakaf untuk Desa Potoya pada Mei lalu. Sumur ini pun selesai dibangun pada 14 Juli silam. Kini masyarakat dapat memanfaatkan air bersih melalui Sumur Wakaf yang dibangun di Masjid Al-Ikhlas Desa Potoya ini.

“Kita menargetkan 120 kepala keluarga di sekitar masjid sebagai penerima manfaat, dan juga sekitar 75 jemaah masjid. Mudah-mudahan kehadiran Sumur Wakaf ini dapat membawa kebermanfaatan bagi mereka semua. Kami mengajak para dermawan juga, untuk terus mendukung program Sumur Wakaf ini. Mengingat saat ini kita juga sedang mendekati musim kemarau,” ajak Nurul. []


Bagikan