Minimnya Akses Air Ancam Pengungsi di Rakhine

Di tengah pandemi di mana masyarakat diminta untuk menjaga protokol kesehatan, para pengungsi di Rakhine, Myanmar, justru hidup dalam fasilitas yang terbatas untuk kebersihan. Termasuk sanitasi, di mana jumlah manusia lebih banyak daripada fasilitas kebersihan yang ada.

Minimnya Akses Air Ancam Pengungsi di Rakhine' photo
Para pengungsi di Desa U Yin Thar sedang memanfaatkan air dari Sumur Wakaf (ACTNews)

ACTNews, KUTUPALONG – Kamp pengungsi internal di Myanmar penuh sesak. Menurut organisasi advokasi hak asasi manusia internasional, Human Rights Watch (HRW) memperkirakan ada 350.000 orang di pengungsian di Myanmar , dan orang-orang ini hanyalah "korek api Covid-19".

Kamp yang penuh sesak, perawatan kesehatan yang sangat di bawah standar dan akses yang tidak memadai ke sanitasi yang layak telah membuat komunitas ini sangat rentan terhadap virus corona. Sementara negara-negara di seluruh dunia mendesak warganya untuk mempraktikkan protocol kesehatan, langkah-langkah ini tampaknya merupakan kemewahan yang tidak mungkin diterapkan di kamp-kamp kumuh ini.

“Kondisi kesehatan sudah menjadi bencana bagi para pengungsi di kamp Rakhine, Kachin, dan Shan utara. Dan sekarang Covid-19 mengancam untuk menghancurkan komunitas yang rentan ini,” kata Brad Adams, Direktur Asia HRW.


Salah satu Sumur Wakaf yang telah selesai dibangun. (ACTNews)

Di negara bagian Rakhine tengah, di mana lebih dari 100.000 Muslim Rohingya telah dikurung di kamp-kamp penahanan, kebutuhan sehari-hari sangat tidak memadai. Satu unit kakus digunakan bersama oleh sebanyak 40 orang, dan satu titik akses air digunakan hingga 600 jiwa, berdasarkan data HRW.

Fasilitas air memang sedemikian mendesaknya untuk pengungsi Rohingya. Sumur yang telah dibangun tidak sesuai dengan kapasitas air yang dapat dialirkan. “Kondisi masih sangat terbatas semisal di U Yin Thar Village, ada 2.600 kepala keluarga namun 4 sumur tabung hanya dapat men-support 100 keluarga sehingga masih jauh dari angka keluarga yang membutuhkan,” ungkap Firdaus Guritno dari Tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Rabu (16/9) ini.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, Global Wakaf – ACT membangun Sumur Wakaf di 4 Sumur Wakaf di Desa U Yin Thar, Sittwe, Rakhine pada awal September ini dan rampung pada Ahad (13/9) lalu. Sebanyak 4 Sumur Wakaf dari Keluarga Alumni Mahasiswa Muslim ITB 98 dan Xedeka tersebut dapat memenuhi kebutuhan untuk sesedikitnya 100 keluarga pengungsi.

Mengingat masih mendesaknya kebutuhan air di Rakhine, karenanya Firdaus juga mengajak masyarakat untuk terus membersamai warga Rohingya. “Agar mereka bisa melewati semua ini, insyaallah sampai kondisi normal kembali. Semoga bantuan-bantuan kita juga dapat bermanfaat untuk mereka,” harapnya. []

Bagikan

Terpopuler