Minimnya Sumber Air di Kampung Pasir Angin

Warga Pasir Angin di Sukahening, Tasikmalaya terbatas mendapatkan air tak hanya saat kemarau saja, namun juga ketika ada masalah pada pipa ratusan meter, yang menyalurkan satu-satunya sumber air dari desa lain.

Petani perempuan Kampung Pasir Angin pulang dari sawah. Menjelang akhir 2020 ini, mereka terancam kekeringan yang juga berpengaruh pada hasil tani mereka. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA – Sawah hijau menghampar luas, dilengkapi semilir udara sejuk khas pegunungan. Nuansa ini dapat Anda nikmati tatkala berkunjung ke Kampung Pasir Angin di Desa Banyurasa, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Namun, siapa sangka jika wilayah hijau tersebut kerap dilanda krisis air bersih. Hanya ada satu mata air yang menjadi sumber kehidupan warga Pasir Angin, itu pun jaraknya cukup jauh, berbeda kampung.

Menggunakan pipa yang panjang, warga mengalirkan air tersebut ke rumah-rumah yang ada di Pasir Angin. Selama tak ada masalah di pipa, air dapat mengaliri rumah warga. Akan tetapi, permasalahan pipa tersendat, pecah atau bocor sering terjadi. Jika begini, warga Pasir Angin harus merunut pipa yang panjangnya sampai ratusan meter untuk menemukan dan memperbaiki masalahnya.

“Beberapa minggu yang lalu warga ngerunut soalnya airnya enggak ngalir,” ungkap Yoyo, salah satu warga yang juga tokoh masyarakat, Senin (3/8).

Di bulan Agustus ini, dalam urusan pemenuhan air, warga Pasir Angin juga harus menghadapi ancaman kemarau. Di rumah Yoyo misalnya, keran di kamar mandinya mengeluarkan air dengan debit yang sangat kecil. Hal ini terpengaruh dari mata air yang menjadi satu-satunya sumber air warga Pasir Angin yang juga mulai berkurang karena musim. Belum lagi air tersebut harus dibagi dengan ratusan keluarga lain yang tinggal di sana, totalnya sekitar 400 keluarga atau sekitar 800 jiwa.

Memang, kemarau menjadi ancaman yang nyata dan nyaris setiap tahun harus dihadapi warga Pasir Angin. Seperti tahun 2019 lalu ketika Indonesia dilanda kemarau parah, kampung yang ada di puncak bukit itu pun tak luput merasakan dampaknya. Jika hal itu terulang, tambah Yoyo, warga mengakalinya dengan mencari air hingga keluar desa atau memanfaatkan air untuk pertanian yang keruh dan merelakan tanaman mereka tak mendapat air.

Krisis air yang sering dihadapi warga Pasir Angin bukan tanpa sebab. Selain karena mereka tinggal di ketinggian, warga di sana juga belum ada yang memiliki sumur bor. Kondisi ekonomi memaksa mereka hidup dalam keadaan demikian. “Buat bikin sumur bor kan mahal,” ungkap Dede, salah satu warga Pasir Angin.

Sebagian besar profesi warga Pasir Angin merupakan petani, pedagang kecil serta pengangguran. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, warga di sana secara ekonomi memang sudah sulit, dan kini ekonomi warga semakin terhimpit karena keadaan. Sektor pedagangan sepi, sementara tengkulak serta hama pertanian terus menjerat. Di sisi lain, kesempatan kerja yang kecil membuat banyak anak muda harus menganggur di usia produktif.

“Selain sumber air biar 800 jiwa warga enggak kesusahan lagi, kami di sini juga perlu bantuan untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran sama pertanian yang kurang maksimal,” tambah Dede.[]