Miris, Menurut Riset Usia 18-29 Tahun Banyak Berpikir “Lebih Baik Mati”

Riset yang dirilis Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada 2020 menyebutkan, usia produktif 18-29 tahun banyak yang berpikir mengakhiri hidupnya saat menghadapi masalah. Bahkan, pada rentang usia ini empat kali lebih besar jumlahnya dibanding usia lain.

Riset: Usia 18-29 Tahun Banyak Berpikir “Lebih Baik Mati”
Ilustrasi. Lalu-lalang pengunjung memadati kawasan wisata Malioboro Yogyakarta. (ACTNews/Ichsan Ali)

ACTNews, JAKARTA – Kesehatan jiwa di Indonesia masih menempati ruang tersier bagi sebagian besar masyarakat, dibanding kesehatan fisik yang selalu menempati ruang primer. Padahal, setiap orang memiliki risiko untuk mengalami gangguan jiwa.

Riset Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukan risiko usia 18-29 tahun empat kali lebih besar mengalami depresi dan berpikir untuk bunuh diri. Riset yang dikeluarkan pada 2020 ini, didasarkan pada analisis data dari 4.010 orang yang melalukan swaperiksa melalui laman www.pdskji.org, yang mana sebanyak 15 persen memikirkan lebih mati tiap hari, sedangkan 20 persen memikirkannya beberapa hari dalam seminggu.

Merespons riset ini, ACTNews berkesempatan mewawancarai salah satu anggota PDSKJI sekaligus Relawan Humanity Medical Services ACT dr. Era Catur Prasetya, SpKJ. Ia menuturkan, alasan banyak usia produktif berpikiran untuk bunuh diri bisa dilihat dari banyak faktor, yakni faktor perkembangan otak, psikologis, dan sosial.

“Memang kalau usia ini itu dalam tahap kematangan akhir dari otak manusia. Kita biasanya cenderung mulai galau dan menanyakan makna hidup di dunia itu seperti apa, sering juga membandingkan hidup kita dengan orang lain. Misalnya teman-teman kok sudah punya anak, ‘kenapa aku kenapa masih sendiri’?” ungkap dr. Catur, pada Kamis (16/9/2021).

Sementara itu, secara psikologis ia mengungkapkan pada usia ini adalah masa puncak kristalisasi nilai pola asuh orang tua yang diterima tiap manusia. Menurutnya, pola asuh sangat berhubungan erat saat manusia berproses menjadi dewasa dan cara menghadapi berbagai masalah kehidupan.

“Kalau faktor sosial, kita bisa berkaca pada pola komunikasi yang semakin terbatas apalagi di masa pandemi ini. Interaksi makin terbatas mengakibatkan menurunkan rasa empati satu sama lain. Kita jadi gagal melakukan interaksi sosial yang sifatnya humanis dengan merasakan perasaaan dan gestur wajah,” jelas dr. Catur.

Dr. Catur menekankan kesadaran tiap orang untuk sadar akan kondisi kesehatan jiwa dengan tidak menganggap malu, tabu, dan membuatnya menjadi stigma. Menurut dia, kesadaran sejak dini amat penting dalam upaya pencegahan tiap orang agar tidak mengalami gangguan jiwa berat dan tidak berpikiran "lebih baik mati".

“Ini menjadi tantangan bagi kita semua karena isu kesehatan jiwa belum menjadi prioritas dan masyarakat belum menganggapnya utama. Jadi saat ini psikiater di Indonesia lebih pada pendekatan preventif untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Istilahnya gangguan jiwa itu seperti bencana, bisa datang kapan saja tanpa membedakan apa pun,” tambah dr. Catur.[]