Mobile Social Rescue: Pengobatan Gratis untuk Operasi Kanker Darmawati

Mobile Social Rescue: Pengobatan Gratis untuk Operasi Kanker Darmawati

ACTNews, JAKARTA - Keluarga Edi Matali atau yang biasa disapa Bang Citos, tidak melaksanakan rutinitas wajib mudik lebaran tahun ini. Pasalnya, sang istri, Darmawati sedang tergolek lemah di momen lebaran kemairn. Darmawati baru saja melakukan operasi pengangkatan kanker payudara Sabtu (1/7). Satu hari sebelum operasi dilakukan, beliau bersama sang anak mengantarkan Ibunda ke Rumah Sakit Sentra Medika, Bogor. Keluarga kecil yang sedang dirundung kesedihan itu didampingi oleh Ari, relawan program Mobile Social Rescue (MSR) – Aksi Cepat Tanggap.

Sesampainya di rumah sakit, Darmawati menjalani proses pemeriksaan. Sejenak, ketakutan sempat menghampirinya sampai-sampai Ia menarik lagi tangannya yang hendak disuntik. Tetapi, keesokan harinya, Darmawati sudah memasrahkan diri pada perawatan dokter. Di ruang operasi, dokter berhasil mengangkat segumpal besar daging yang toksik bagi tubuhnya. Setelahnya, Darmawati dipindahkan ke kamar perawatan. Selama beberapa hari, Darmawati masih menjalani proses pemulihan di sana, hingga hari ini Rabu (5/7).

“Alhamdulillah, dari awal masuk RS sampai sekarang tidak pernah masuk ICU, selalu di kamar inap,” kata Ari, yang telah mendampingi keluarga ini sejak bulan April 2017 lalu.

Ari mengakui mendengar kisah tentang Darmawati dari Kusmayadi, Project Officer MSR yang kenal dengan Edi Matali atau Bang Citos, seorang buruh kebersihan gudang Aksi Cepat Tanggap di Sawangan.

Selama satu setengah tahun belakangan, Bang Citos menceritakan, istrinya Darmawati mengeluhkan gangguan kesehatannya. Tetapi, Darmawati lebih sering melakukan pengobatan tradisional karena keterbatasan biaya. Bulan Maret 2017, penyakit yang diderita Darmawati semakin parah, sehingga beliau pun berobat di RS Bhineka Bakti Husada, Tangerang.

Dari sana, Istri Bang Citos dirujuk ke RSUD Tangerang di Cikopo untuk melakukan biopsi, mendeteksi kemungkinan sel kanker dalam tubuhnya. Hasilnya mengejutkan, Diketahui kanker payudaranya sudah memasuki stadium empat. Tetapi, setelah satu bulan belum mendapat panggilan untuk penanganan lanjutan, Bang Citos mulai putus asa.

Mendengar musibah penyakit yang menimpa salah satu saudaranya, Kusmayadi pun mengambil tindakan. Pada bulan April kemarin, Ari sebagai relawan MSR diterjunkan untuk mendampingi perawatan Darmawati hingga tuntas. Mulai dari pendaftaran operasi, cek kesehatan, sampai penebusan obat, dilewatkan dalam dampingan Ari.

“Bulan April, kami mendaftar untuk operasi. Tapi, ada miskomunikasi yang mengakibatkan operasi baru bisa dilangsungkan akhir Juni, lama sekali. Menurut dokter bedah, tidak perlu ke poli dalam karena waktunya dekat dengan biopsi, tapi menurut aturan BPJS, harus ada prosedur ulang. Maka Bu Darmawati pun melakukan pemeriksaan ke poli dalam, poli bedah, dan poli jantung. Usai lebaran, baru operasi bisa dilakukan,” tutur Ari.

Payudara kanan Darmawati, yang jaringannya telah sepenuhnya terjangkit gumpalan kanker seberat 2 kg, terpaksa diangkat. Untungnya, kanker belum menyebar ke payudara kirinya.

Biaya rawat inap dan operasi berhasil tertutup oleh fasilitas BPJS yang dimiliki keluarga Edi Matali. Sedangkan biaya suplemen dan obat paten yang disarankan dokter diurus oleh Aksi Cepat Tanggap. Tekad ACT, adalah untuk mendampingi perawatan Darmawati hingga selesai.

“Setelah ini, masih harus cek sampai lukanya kering. Kalau Bu Darmawati sudah nyaman bergerak, bisa pulang. Tapi, setelah itu pun masih harus cek patologi anatomi untuk memastikan tidak ada sel kanker yang tersisa. Bila ternyata masih ada, harus dilanjutkan dengan kemoterapi. Diperkirakan biaya kemoterapi akan mencapai lebih dari Rp. 30 juta. Kami bertekad untuk mendampingi dan membiayai sampai tuntas,” kata Ari.

Mengetahui kesehatan istrinya lebih terjamin, Bang Citos yang di mata kawan-kawannya begitu tampak sangat bahagia. Ketika ditelepon Ari, pria itu kesulitan berkata-kata.

“Alhamdulillah, terima kasih ACT,” hanya itu yang bisa dikatakannya.

MSR, Program Pahlawan

Keluarga Edi Matali bukanlah yang pertama menerima manfaat dari Mobile Social Rescue. Diinisiasi pada tahun 2010, program ini melakukan pendampingan bagi masyarakat yang kurang mampu, di luar kebencanaan. Ruang lingkup MSR meliputi kesehatan (berupa bantuan dana dan pendampingan pasien), pendidikan (berupa bantuan untuk anak-anak kurang mampu), ekonomi (berupa pendampingan agar warga bisa mandiri), dan sosial (menargetkan anak-anak jalanan dan masyarakat termarjinalkan).

Seperti program ACT lainnya, MSR memiliki basis kerelawanan. Para relawan pun memiliki spesialisasi bidang masing-masing. Ari, contohnya, berfokus pada isu kesehatan yang ditanggulangi MSR.

“Sudah hampir dua tahun saya jadi relawan MSR. Sebelumnya, saya melakukan pendampingan pribadi, mengikuti berbagai organisasi secara sporadis. Kemudian, saya mendapat berita tentang ACT yang memang memiliki dasar kerelawanan, maka saya bergabung,” ungkap Ari.

Selama dua tahun mengabdi di program ini, Ari mengakui telah menyaksikan bantuan yang didistribusikan dapat memberi nyala bagi orang-orang yang paling membutuhkan.

“Bu Darmawati bukan orang pertama yang mendapat manfaat, dan Insya Allah tidak akan menjadi yang paling akhir,” kata Ari, menutup sambungan telepon dengan ACTNews. []

Tag

Belum ada tag sama sekali