Modal Terbatas, Darman Pertahankan Dagangan dengan Berutang

Darman setiap hari berjualan sayur untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena keterbatasan modal, kadang ia mesti berutang sayur dagangan terlebih dahulu kepada para petani untuk kemudian dibayarkan belakangan.

Darman bersama sekarung labu air yang akan ia jual. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Darman (34) menunjukkan dua karung yang ada di depan rumahnya. Satu karung penuh berisi  labu air, sedangkan satunya lagi ada sayur oyong yang siap ia bawa ke pasar pada malam hari. Namun ia belum selesai mengambil sayur-sayuran pada Jumat (28/8) sore itu, dan akan menemui petani lainnya sehabis magrib. “Masih ada lagi kayaknya habis ini. Nanti habis magrib mudah-mudahan petaninya bisa ditemui. Habis istirahat di rumah sebentar, siap-siap, baru jalan ke pasar jam 12 malam nanti,” ujar Darman.

Warga Kampung Babakan, Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi ini memang sehari-harinya mesti aktif mencari panen dari para petani. Hasil panennya tersebut kemudian akan ia jual di pasar. Dari keuntungan berjualan sayur itulah Darman bisa menghidupi istri beserta kedua anaknya.

Terkadang ia tidak memiliki uang sama sekali untuk membeli hasil panen para petani. Jika sudah begitu, biasanya ia hanya akan memberikan modal kepercayaan. Darman akan mengambil hasil panen para petani dan memberikan hasilnya sepulang ia berjualan.


Darman sedang memuat dagangan ke atas motornya untuk dia bawa ke pasar tengah malam. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau tidak ada modal dan kehabisan, ya begitu. Dapat untung Rp500 ribu, tapi masih ada sangkut pautnya dengan si petani. Di lapangan ya seperti itu, kita bawa dahulu, nanti baru selesai jualan kita berikan uang modalnya ke petani,” jelas Darman.

Bukan hal mudah mempertahankan modal bagi para pedagang yang terkadang untung, terkadang merugi. Kadang modal bergulir yang disimpan Darman untuk berjalan esok hari, terpaksa terpakai demi kebutuhan keluarga.

Karena itu pula ia harus meminjam dari keluarga-keluarganya. Namun, tidak selalu keluarganya punya uang untuk dipinjami. Akhirnya Darman sempat harus meminjam kepada bank deprok atau rentenir beberapa waktu lalu.

“Memang ada sih, tapi sedikit (meminjamnya). Itu kita pinjam karena terpaksa. Karena kalau kita sudah berdagang ke sana ke mari tapi sedang tidak laku dan rugi, modal yang kita punya habis. Kalau saudara sedang tidak ada uang, kita mau ke mana? Ya sudah, itu saja (bank deprok) solusi yang paling mudah. Itu pun untuk menutupi juga (modal), agar si petani tidak kecewa,” ceritanya.


Berikhtiar mendukung usaha petani dalam menyediakan pangan, Global Wakaf – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro. Program ini bertujuan untuk membebaskan pelaku usaha mikro dari jeratan utang dan riba agar proses produksi serta transaksi jual-beli lebih berkah. Pelaku usaha mikro meliputi produsen pangan di hulu maupun pedagang kecil di hilir.

Dengan dasar sistem Qadhr al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang. Pemberdayaan menjadi hal mendasar demi mendorong turunnya angka kemiskinan.  

“Harapannya dengan adanya instrumen ini, masyarakat bisa mengembangkan usahanya lebih maju lagi di masa sulit ini. Selain itu, mereka mulai beralih dan tidak lagi berutang kepada bank deprok tadi. Jadi dampak-dampak bunga yang memberatkan bisa kita minimalisir,” tutur Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT.

Wahyu pun berharap, para dermawan dapat berpartisipasi dalam program ini sehingga para pelaku usaha kecil seperti yang ada di Kampung Babakan bisa menjalankan usahanya dengan lebih lancar dan tentunya lebih berkah. ”Kami berencana untuk membantu para pelaku usaha di Kampung Babakan, dan sekaligus mengajak juga kepada para dermawan untuk membantu para pelaku usaha yang saat ini sedang kesulitan karena kendala permodalan. Melalui bantuan para dermawan sekalian di program Wakaf Modal Usaha MIkro, mudah-mudahan kita bisa membantu meringankan beban mereka,” harap Wahyu. []