Mozaik Kehidupan Muslim Sevilla

Mozaik Kehidupan Muslim Sevilla

Mozaik Kehidupan Muslim Sevilla' photo

ACTNews, SEVILLA - Sepi bukanlah karakteristik kota Sevilla, kota terbesar keempat di Spanyol. Ibukota Wilayah Otonomi Andalusia ini dikenal sebagai pusat bisnis dan kebudayaan di Spanyol Selatan. Bangunan bersejarah banyak tersebar di penjuru kota, menjadikan Sevilla sebagai tujuan wisata utama di Andalusia.

Banyak dari bangunan bersejarah tersebut merupakan peninggalan kejayaan Islam di abad ke-8 hingga ke-13. Selepas perebutan kekuasaan di Andalusia pada abad ke-13, perlahan peradaban muslim menghilang dari Sevilla. Selama 600 tahun lamanya, Istana Real Alcázar dan Menara La Giralda menjadi warisan eksistensi Islam di kota bersejarah tersebut. Islam belum lagi menginjakkan kaki di Sevilla, setidaknya hingga akhir masa 1970-an.

Sebuah komunitas muslim lahir di denyut jantung Sevilla pada masa itu. Sejumlah warga asli Sevilla mulai memeluk Islam setelah sebelumnya merantau ke Inggris dan Timur Tengah, di mana mereka menemukan pemahaman tentang Islam. Bersama, mereka melanjutkan dakwah Islam di sudut-sudut kota Sevilla. Puluhan tahun berlalu, populasi muslim kian berkembang hingga 25 ribu jiwa di kota ini.

“Mereka adalah generasi muslim pertama. Orang tua saya adalah salah satunya,” ungkap Ibrahim Hernandez, salah satu muslim di Sevilla sekaligus Wakil Ketua Yayasan Masjid Sevilla (Fundación Mezquita de Sevilla/FMS).

Ibrahim mengungkapkan, generasi muslim pertama hidup secara berkoloni selama bertahun-tahun. Tidak hanya di Sevilla, mereka juga menyebar di Granada, Cordoba, maupun Madrid. Menurutnya, penting pagi para muslim tersebut untuk hidup secara berdekatan.

"Karena kami sadar bahwa kami tinggal di lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, kami berusaha menjaga silaturrahim kami agar iman Islam terus terjaga,” jelasnya.

Silaturrahim yang ada mereka jaga secara berkelanjutan. Setiap minggunya, komunitas muslim di Sevilla mengadakan pertemuan reguler yang biasa diisi dengan kajian-kajian Islam maupun pelajaran membaca Al-Qur’an. Lambat laun, kebutuhan akan sebuah tempat untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan mereka pun muncul. Atas usaha bersama, mereka mampu menyewa sebuah bangunan kecil untuk dijadikan musala.

Selama puluhan tahun, musala tersebut kerap berpindah lokasi. Umumnya, musala mereka berada satu atap dengan bangunan apartemen. Saat ini, musala mereka pun berada di lantai dasar sebuah apartemen di Sevilla. Ibrahim mengungkapkan, dulunya ruangan musala tersebut adalah tempat penyimpanan kacang dan manisan.

Di musala ini pula, kegiatan pengajian, silaturrahim, kelas pembacaan Al Qur’an untuk anak-anak dan dewasa diselenggarakan. Walaupun sepertinya muslim di sana telah memiliki fasilitas peribadatan, banyak dari mereka yang mendamba adanya masjid. Luqman Nieto, warga asli Sevilla sekaligus pengisi khutbah di Musala Sevilla, adalah salah satunya.

Ia bersyukur setidaknya komunitas muslim di sana memiliki sebuah musala yang berfungsi sebagai tempat ibadah sekaligus tempat mendalami ilmu agama. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa ia dan warga muslim lainnya membutuhkan sebuah bangunan yang benar-benar didedikasikan sebagai rumah ibadah umat muslim.

“Seperti yang kalian tahu, musala kami berada di lantai dasar sebuah apartemen. Bangunan di atas kami adalah flat warga. Ada saatnya mereka mengadakan pesta dan mengonsumsi alkohol hingga mabuk. Bayangkan ketika kami di bawah melakukan ibadah, di atas kami ada sekumpulan warga yang berlaku jauh dari nilai-nilai Islam. Seringkali kami merasa kurang nyaman akan hal itu. Musala adalah rumah ibadah, dan sudah seharusnya rumah ibadah dijauhkan dari hal-hal yang bertentangan dengan agama,” ungkap Luqman yang juga merupakan seorang hafiz (penghafal Al-Qur’an).

Namun Luqman memahami, bukanlah salah tetangga apartemen jika berlaku demikian karena mereka tidak paham tentang ajaran Islam. Bukan hak Luqman dan komunitas muslim lainnya pula untuk melarang mereka melakukan tindakan demikian. Berada di lingkungan sekuler menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Namun hal itu tidak membuat mereka ingin menghilangkan keharmonisan sosial yang tercipta.

“Oleh karena itu, kami berusaha sebaik mungkin untuk mendirikan rumah ibadah yang layak. Kami ingin sekali membangun sebuah bangunan yang didedikasikan seutuhnya untuk Allah dan Islam. Kau tahu, sebuah masjid yang seutuhnya masjid, tidak menyatu dengan apartemen atau hunian semacamnya,” jelasnya.

Sama halnya dengan Ibrahim, Luqman merupakan generasi muslim kedua di Sevilla. Orang tuanya merupakan mualaf. Dibesarkan di kota itu, kisah mengenai kejayaan Islam di masa lampau begitu melekat dalam benak mereka. Istana Real Alcázar dan Menara La Giralda telah beralih fungsi. Namun, dua bangunan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

“Menara La Giralda itu dulunya adalah menara azan. Untuk ke puncaknya, kita harus menaiki 34 tangga atau level. Pada masa kekhalifahan, penjaga menara biasanya menunggangi kuda hingga ke puncak untuk mengumandangkan azan,” Ibrahim mengisahkan.

Tak jauh dari Menara La Giralda, berdiri sebuah katedral bergaya Gotik. Bangunan antik tersebut merupakan Katedral Sevilla. Sebelum terjadi perebutan kekuasaan, area itu merupakan tempat berdirinya Masjid Agung Almohad. Nama Almohad sendiri diambil dari nama khalifah yang kala itu mempimpin Sevilla, yakni Almohad (1147–1162).

Sejarah pergantian kekuasaan di kota kelahirannya telah membentuk Sevilla saat ini. Bangunan demi bangunan beralih fungsi. Tidak ada lagi masjid agung yang bersejarah di Sevilla. Namun demikian, Ibrahim tidak ingin tenggelam dalam masa lalu.

“Itu semua terjadi di masa lalu. Kini, setelah absen selama ratusan tahun, Islam kembali hadir di Andalusia. Kami tidak ingin merebut bangunan ini ataupun itu. Kami ingin membangun satu bangunan yang baru. Kami ingin bangun sebuah masjid berikut pusat kebudayaan Islam, di mana syiar Islam akan berkumandang lebih kuat daripada di masa lalu,” ujar Ibrahim, yang kini fokus menggalang dana wakaf untuk pembangunan masjid. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan