MRI-ACT Jelajah Kekeringan hingga Ujung Jawa Tengah

Masuk hari keenam, tim jelajah kekeringan dari Masyarakat Relawan Indonesia tiba di Solo. Keesokan harinya, Kamis (22/8), mereka bakal melanjutkan perjalanan ke Sragen untuk melanjutkan langkah menjajak kekeringan di Pulau Jawa yang semakin parah.

ACTNews, SRAGEN Sekitar pukul 18.00 WIB, Rabu (21/8), deru sepeda motor terdengar di depan Kantor Aksi Cepat Tanggap (ACT) Solo, Jawa Tengah. Pengendaranya ialah tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI). Mereka singgah di Solo, setelah enam hari melakukan perjalanan jelajah kekeringan 2019. Petang itu, mereka beristirahat usai seharian berkendara lintas kota melakukan asesmen kekeringan yang melanda Jawa.

Dua orang yang mengendarai motor turun, kemudian disusul tim MRI yang mengiringi menggunakan mobil berpenggerak empat roda di belakangnya. Fanny Irfan dari tim MRI mengatakan, Solo menjadi kota persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Sragen keesokan harinya. “Pagi tadi kami berangkat dari Blora, kemudian Boyolali. dan berakhir di Solo untuk Rabu ini,” ungkap Fanny, Rabu (21/8).

Tim MRI yang singgah di Solo merupakan relawan yang terdiri dari MRI Pusat dan Jakarta Raya. Mereka memulai perjalanan dari Jakarta sejak Sabtu (17/8) menuju berbagai kota di Jawa untuk melakukan asesmen dan melihat kekeringan yang melanda hampir seluruh wilayah Jawa pada tahun 2019 ini. Setelah hampir sepekan melakukan perjalanan, mereka tiba di Solo untuk kemudiaan keesokan harinya melanjutkan perjalanan ke Sragen, Jawa Tengah.


Kamis (22/8), bertepatan dengan pelepasan truk tangki untuk mendistribusikan air dari Kantor ACT Solo, tim MRI dari Jakarta ini bertolak ke Sragen. Di Sragen, mereka mengawal perjalanan truk serta melakukan asesmen ke wilayah terdampak kekeringan di kota yang berbatasan dengan Jawa Timur.

Dudi selaku Koordinator Humas MRI yang juga melakukan jelajah kekeringan menyebut, timnya bakal melakukan asesmen dengan melihat lokasi terdampak kekeringan serta berbincang dengan warga di Dukuh Betek, Desa Banyuurip, Kecamatan Jenar, Sragen. Bantuan air bersih juga didistribusikan untuk warga terdampak kekeringan di sana.

“Hasil asesmen kami, tak ada sumber air lagi di desa ini (Banyuurip). Sumur dan sungai mengering, sedangkan untuk pasokan air dari perusahaan air minum tak selalu mengalir. Jadi, warga hanya mengandalkan bantuan air bersih karena untuk membeli mereka tak mampu,” jelas Dudi.

Selesai melakukan asesmen kekeringan di Sragen, tim MRI segera bergegas menuju lokasi selanjutnya di Wonogiri, Jawa Tengah. Deru motor kembali terdengar dengan iringan mobil berpenggerak empat roda di belakangnya.