MRI-ACT NTB Beri Bantuan Bantuan Hidup Dasar

ACT NTB bersama MRI NTB melakukan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dan Penanganan Kebakaran.

Usai menerima materi penanganan kebakaran, salah seorang siswa MAN 2 Mataram mempraktikkan cara pemadaman api. (ACTNews/Adi Achmad)

ACTNews, MATARAM – Tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dan penanganan kebakaran (fire rescue) ke sekolah-sekolah se-Nusa Tenggara Barat. MAN 2 Mataram menjadi sekolah pertama yang dikunjungi tim pada Jumat (11/10).

Hari itu, siswa di kelas X dan XI menjadi peserta pelatihan. Kepala Cabang ACT NTB Lalu Muhammad Alfian mengatakan, siswa amat antusias mengikuti materi walaupun cuaca saat itu cukup pasan. “Terlebih kegiatan dilakukan di ruang terbuka, di lapangan sekolah,” kata Alfian. Para siswa pun diberikan kesempatan mampraktikkan materi yang telah diberikan para pelatih.

Alfian menjelaskan, menurutnya, pengetahuan bantuan hidup dasar sangat perlu mengingat siapapun bisa terjebak dalam kondisi darurat. “Mungkin saat itu hanya kita yang dapat memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan atau bencana. Masalahnya, apakah kita mampu dan layak untuk memberikan pertolongan? Hati-hati, karena menolong dengan kemampuan seadanya justru dapat mencelakakan korban,” kata Alfian.


Kegiatan ini merupakan rangkaian pelatihan yang akan diselenggarakan di sekolah-sekolah lain. Melalui kegiatan ini, Alfian berharap para siswa mempunyai pengetahuan mitigasi bencana dan penanganan kedaruratan.

Penanggung jawab pelatihan Hari Prima Ahmadi dari MRI mengatakan, tujuan utama diselenggarakannya kegiatan pelatihan adalah membentuk satuan Korps Relawan Muda (KRM) di sekolah-sekolah untuk menanamkan jiwa kerelawanan sejak dini dan masif mulai di bangku sekolah. Ia juga menyampaikan, tim yang memberikan pelatihan di antaranya merupakan relawan medis yang bersertifikasi di bidang Emergency Response.

Selain memberikan pelatihan BHD dan penanganan kebakaran, Tim MRI-ACT juga melakukan aksi penggalangan dana untuk para korban bencana gempa Maluku. Hingga saat ini, penyintas gempa di Maluku masih bertahan di tenda pengungsian karena mereka trauma dan kehilangan tempat tinggal. Belum lagi, gempa susulan masih sering mengguncang.[]