Mukhlis Tak Tunggu Kaya untuk Bersedekah

Bagi Ahmad Mukhlisin, tak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. Tahun 2015 lalu saat ia memulai bisnis, hanya Rp500 ribu tersisa di kantongnya dan Rp400 ribu benar-benar ia sedekahkan. Kondisi kini membaik bagi Hijab Hayuri, bisnis yang ia jalankan, dan ia tak berhenti bersedekah.

Ahmad Mukhlisin membagikan pengalamannya dalam acara Bekasi Berwakaf pada Ahad (20/12) lalu. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Ketika Ahmad Mukhlisin memulai bisnis pada 2015, kondisinya bukan baik. Ia kehabisan modal dan kehabisan uang untuk membeli barang dagangan. Ia lalu melihat ke celengan yang setiap hari ia isi sebelum bekerja. Ketika dibuka, ia dapati Rp500 ribu. Di tengah kondisi sulit itu, Rp400 ribu ia berikan kepada masjid di dekat rumah, sementara Rp100 ribunya ia pakai untuk bertahan bersama istrinya.

“Mungkin kalau dari segi nominal enggak seberapa lah, ya. Mungkin di dompet bapak dan ibu sekalian lebih dari itu. Tapi untuk saya saat itu benar-benar bisa dikatakan itu satu-satunya. Tapi karena saya percaya, saya sisakan uang Rp 100 ribu itu untuk makan dan keperluan sehari-hari. Kita berusaha dari jalan yang lain, mudah-mudahan cepat atau lambat Allah akan kasih jalan,” kata Mukhlis terbata-bata karena tangisnya saat menjadi narasumber di Bekasi Berwakaf pada Ahad (20/12) silam.

Saat itu ia tak ingin lelah mengejar dunianya saja, tapi juga ingin mendapatkan akhiratnya. Mukhlis mengibaratkannya dengan peluang bisnis. Jika orang sangat jeli melihat peluang bisnis dan mengejarnya, begitu pula menurutnya mengejar peluang akhirat dan prinsip itu yang ia pegang hingga sekarang.

“Maka dari situ mindset saya tidak menunggu kaya untuk bersedekah. Setiap ada peluang, berapa pun yang kita punya langsung action. Sedekah itu enggak harus ikhlas. Kalau prinsipnya sedekah seikhlasnya, berapa sih, nominal seikhlasnya? Kalau kita melakukan hal yang biasa, jangan harap hasilnya luar biasa. Berarti kalau kita mau hasil yang luar biasa, apa yang harus kita lakukan itu harus luar biasa juga,” jelas Mukhlis.


Kembali Mukhlis menganalogi sedekah dengan perintah salat saat kanak-kanak. Saat kecil, anak yang disuruh salat subuh pasti mengantuk. Begitu juga ketika sedang asyik bermain di siang hari kemudian orang tuanya memotong waktu bermainnya dengan salat. Tentu kadang tidak ikhlas, tetapi melalui pembiasaan anak akan ikhlas dengan sendirinya.

Terbukti memang sampai kini harta Mukhlis diganti. Hijab Hayuri yang dirintisnya pada tahun itu, sekarang telah memiliki lebih dari dua ribu reseller yang berlokasi hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Selain itu, jumlah pengikut akun Instagram-nya saat ini telah mencapai 130 ribu pengikut dan dibantu puluhan karyawan. Semua berkah itu semakin rajin membuatnya bersedekah.

“Dari awal sudah komitmen bahwa saya punya bisnis. Semakin besar bisnis yang saya jalankan, berarti saya harus lebih bermanfaat lagi, lebih banyak lagi bersedekahnya. Supaya makin barokah. Mudah-mudahan dengan saya rutin, bukan hanya sekali dua kali, mohon doanya bisa setiap bulan, bisa menyedekahkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umat,” ujar Mukhlis.


Owner Hijab Hayuri Ahmad Mukhlisin menerima piagam kemanusiaan atas donasi yang sudah disalurkan melalui ACT Bekasi. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

Untuk menyalurkan sedekahnya, Hijab Hayuri sudah rutin mempercayai ACT sebagai lembaga filantropi sejak 2017 hingga sekarang. Adapun program Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI) jadi program sasaran produsen hijab milik Mukhlis ini. Baru-baru ini, Hijab Hayuri turut mendukung program pembangunan Sumur Wakaf untuk para santri dan warga di Cabangbungin, Bekasi, dan ia juga mewakafkan lagi hartanya untuk membantu pembangunan 7 titik Sumur Wakaf lagi di Bekasi lewat acara Bekasi Berwakaf.

Selain Mukhlis, dalam acara tersebut banyak wakif yang kemudian berkomitmen wakaf hingga Rp350 juta untuk terbangunnya Sumur Wakaf di titik-titik yang ada. “Saya doakan semoga berkah dan jangan sampai berhenti pada hari ini. Karena kita masih punya waktu dan masing-masing kita masih bisa menggalang. Terima kasih, semoga yang diberikan jadi berkah, harta yang tersisa Allah berikan keberkahan dan Allah ganti dengan harta-harta yang terbaik,” pungkas Ibnu Khajar selaku Presiden ACT. []