Multidimensi Ibadah Kurban

Multidimensi Ibadah Kurban

Memahami keparipurnaan Islam melahirkan kebaikan yang luas di tengah umat manusia. Belajar dari ibadah kurban, ada sejumlah dimensi di dalamnya yang juga menjadi penentu keluasan maslahat kurban.

Selain salat sunnah di hari Idul Adha tiba, Allah perintahkan umat Muslim yang mampu untuk menyembelih hewan kurban dan mendistribusikan dagingnya untuk umat Muslim lainnya. Utamanya adalah mereka yang lemah dan dililit keterbatasan. Proses itu dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijah) sampai tiga hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijah). Dari sisi ini, mudah dipahami ajaran ini kental dengan nilai sosial.

Islam mengajarkan, ibadah tidak saja menyangkut pada hubungan vertikal manusia dengan Allah sebagai Tuhannya (aspek ritual), namun selalu berkait dengan hubungan horizontal manusia dengan sesamanya (aspek sosial). Seperti dalam salat misalnya, ritual yang dilakukan menjadi kurang bernilai jika tidak dibarengi dengan zakat (laa shalata liman laa zakata).

Banyak ayat Al-Qur’an yang menyatakan perintah salat kemudian dilanjutkan dengan perintah berzakat. Misalnya saja perintah Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 110, “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”

Selain ayat di atas, masih banyak ayat lainnya didalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keterkaitan ibadah salat dengan zakat, di antaranya terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 43 dan 177, An-Nisa ayat 77 dan 162, Al-Maidah ayat 12 dan 55, At-Taubah ayat 5 dan 18, Al-'Anbya' ayat 73, Al-Haj ayat 41 dan 78, An-Nur ayat  37 dan 56, An-Naml ayat 3, Luqman ayat 4, Al-'Ahzab ayat 33, Al-Mujadilah ayat 13, Al-Muzzammil ayat 20 dan Al-Bayyinah ayat 5.

Bahkan dalam salat, hubungan vertikal dan horizontal tersebut sangat jelas terlihat dari gerakan salat itu sendiri, yang diawali dengan takbiratul ihram (pengagungan Tuhan) dan diakhiri dengan pengucapan salam (pemberian keselamatan kepada sekeliling).

Hal yang sama (aspek sosial) juga terdapat dalam ibadah puasa. Puasa menjadi kurang bermakna jika tidak menumbuhkan rasa solidaritas dan kasih sayang terhadap sesama yang mengalami kesusahan, karena selama sebulan penuh kita dididik untuk merasakan penderitaan mereka. Karena itulah, sebagai salah satu perwujudan rasa solidaritas dan kasih sayang itu kita wajib berzakat fitrah di penghujung Ramadan.

Begitu juga dengan ibadah kurban. Dalam ibadah ini terdapat konsep keimanan dan konsep kemanusiaan. Konsep keimanan menunjukkan kualitas hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, yaitu ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah. Sedangkan konsep kemanusiaan menunjukkan kualitas hubungan antar sesama manusia yaitu sejauh mana seorang hamba peduli pada hamba Allah yang lain. Kurban, simbol kecintaan kita kepada Allah SWT melebihi kecintaan kita pada harta yang kita miliki. Karena, yang dinilai dari kurban itu bukanlah daging dan darah dari hewan yang dikurbankan, tetapi ketaatan kita kepada Allah SWT.

Ketika momentum Idul Adha, umat Islam menjalankan salat sunnah, itulah dimensi ritual. Ketika ibadah menyentuh amal kepada sesama, ada pembagian daging kurban ùntuk sesama terutama yang membutuhkan, inilah dimensi sosial. Satu dimensi lagi yang menentukan kebermanfaatan kurban: dimensi kemanusiaan.

Sosial dan kemanusiaan, sepintas memang mirip. Bedanya, dalam kerja kemanusiaan terkandung sisi manajemen, di mana strategi, keamanahan bahkan tekad menentukan keluasan manfaatnya. Pilihan kata kemanusiaan menggenapkan dimensi ritual (ibadah yang tata caranya sudah ditetapkan), dan sosial (kepedulian pada sesama, seperti amal-amal saleh individual maupun komunal tanpa berpikir “perubahan”).

Kemanusiaan sebagai dimensi ketiga kurban menghadirkan pengorganisasian, yang dalam hal ini bernama Global Qurban (GQ). Titik tekan tulisan ini ada pada dimensi kemanusiaan kurban, di mana perbincangan kurban sebagai ritual dan sosial selesai. Dimensi kemanusiaan kurban juga mengungkap bagaimana kesempurnaan amal kurban bisa membawa dampak signifikan. Bukan saja untuk keperluan gizi (pangan) sesaat, melainkan keberlangsungan manfaat dalam makna pemberdayaan masyarakat, bahkan mendorong perubahan sosial.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, GQ sebagai kerja manajemen, mengusung dimensi kemanusiaan kurban dengan strategi, keamanahan, dan tekad kuat demi meluaskan manfaat kurban. Andai pelaksanaan kurban selamanya sebatas membagikan daging kurban kepada yang berhak; selamanya hanya memilih lingkungan sekitar masjid atau permukiman; harus dipotong dan disaksikan langsung pekurbannya; tanpa kreativitas mengalokasikan ke pelosok negeri bahkan mancanegara; tanpa keberanian mengeksekusi pendistribusian di kamp-kamp pengungsi korban konflik/perang; tanpa berpikir pemberdayaan peternak, sulit membayangkan kurban akan berkontribusi bagi perubahan sosial.

Kurban dalam dimensi kemanusiaan di GQ, memungkinkan: harga kurban bisa diturunkan sehingga lebih banyak orang mampu berkurban (kurban progresif, beli lebih awal, harga didiskon); dana investasi pemberdayaan peternakan bisa digalang melalui kurban intensif (sekali beli dengan harga tertentu, untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan). Memasifkan ijtihad ekonomi kurban, menjadikan  dimensi kemanusiaan kurban beranjak menuju maslahat signifikan bagi perbaikan nasib ummat.  Dengan ini, bisalah dipahami, GQ menjadi pengelola kurban multidimensi yaitu: ritual, sosial dan kemanusiaan.[]

Tag

Belum ada tag sama sekali