Multiperan Dai di Indonesia

Ence sedang mengajar di MDA Nurul Falah, Desa Sirnajaya, Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (23/1). Ia merupakan salah satu guru mengaji bergaji rendah di Tasikmalaya. (ACTNews/Eko Ramdani)

multiperan dai
Ilustrasi. Pemberian bantuan kepada 1.000 dai. (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, JAKARTA Didin Hafiduddin dalam bukunya Dakwah Aktual mengatakan, jika memperhatikan Al-Qur’an dan sunah, dakwah menduduki tempat yang utama, sentral, strategis dan menentukan. Keindahan dan kesesuaian Islam dengan perkembangan zaman sangat ditentukan dengan kegiatan dakwah yang dilakukan umatnya.

Orang yang berdakwah biasa disebut dai. Tetapi menurut Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, saat menyampaikan sambutan dalam peluncuran Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia (GNSDI), makna dai sangat luas, tidak hanya orang yang ceramah di atas mimbar. Termasuk dai adalah ulama, kiai, ustaz yang mengajar mengaji, imam salat rawatib, juga marbut masjid.

Diketahui juga, penyebaran Islam di Indonesia karena dakwah yang dilakukan ulama-ulama terdahulu.  Seperti Wali Songo di Jawa, Hamzah Fansuri serta Nuruddin Ar-Raniri di Aceh, Syamsudin Al-Sumatrani, dan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang dakwah di daratan Borneo. Selain ulama-ulama besar, Islam di Indonesia juga menyebar lewat kegiatan keagamaan di masjid dan surau-surau kecil yang dihidupkan oleh kiai-kiai kampung.

Seperti contoh, anak-anak masyarakat Minangkabau saat akil balig agar pergi ke surau untuk belajar agama Islam. Di Jawa juga demikian, anak-anak pergi ke musala atau ke rumah ustaz yang mengajarnya.

Dai sebagai pemersatu bangsa

Saat zaman pergolakan, peran dai dalam mengobarkan semangat santri dan masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan sangatlah terasa. Salah satu contoh yang paling popular adalah Resolusi Jihad fi Sabilillah yang dicetuskan oleh KH Hasyim Asy’ari dan para tokoh Nahdlatul Ulama. 

Fatwa Jihad fi Sabilillah berbunyi:

”Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ’ain yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, Iaki-Iaki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak, bagi yang berada dalam jarak Iingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di Iuar jarak Iingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah, yang cukup kalau dikerjakan sebagian saja”. 

Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Metro Rijal Fadhli dan Bobi Hidayat dalam penelitiannya yang dimuat Jurnal Swarnadwipa Volume 2, Nomor 1, Tahun 2018 menyimpulkan, fatwa tersebut mengandung arti bahwa tidak ada alasan bagi setiap muslim yang sedang tidak ada uzur syar’i untuk menghindari kewajiban jihad.

“Implikasi  resolusi jihad  K.H.  Hasyim  Asy`ari, secara  politik meneguhkan kedaulatan Indonesia sebagai negara yang merdeka dari segala bentuk penjajahan,” tulis Rijal dan Bobi

Saat ini peran dai sebagai pemersatu bangsa tidak lagi mengusir penjajah, melainkan mempertahankan kesatuan bangsa. Menurut mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin yang saat ini menjadi Wakil Presiden RI, dakwah hendaknya dapat merukunkan masyarakat. 

“Dakwah membangun keutuhan dan kerukunan di masyarakat, kehidupan berbangsa dengan memperhatikan prinsip-prinsip dan kesepakatan yang sudah ada seperti Pancasila, UUD 1945, teologi-teologi kerukunan, dan narasi-narasi yang merukunkan,” tutur Wapres.

Selain itu, di masa pandemi Covid-19 peran dai juga sangat penting. Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah Cholil Nafis mengatakan, saat pandemi dai berperan untuk meluruskan akidah. Menurutnya tak sedikit masyarakat yang menganggap virus sebagai azab dan malapetaka, dan pandangan seperti itu harus diubah.