Mushaf Banyak yang Rusak, Santri Ponpes Al-Mukhlisin Mengaji Bergantian

“Jumlah mushaf Al-Qur’an terbatas dan sudah banyak yang sobek. Jadi kami mengaji bergantian,” kata Dandi seorang santri Ponpes Al-Mukhlisin di Jorong Timbo Abu, Nagari Kajai saat menceritakan kondisi mushaf di pondoknya.

kondisi mushaf ponpes Al-mukhlisin
Kondisi sebagian mushaf Al-Qur’an di Ponpes Al-Mukhlisin. (ACTNews/Agusriadi)

ACTNews, PASAMAN BARAT – Disela-sela kesibukan tim ACT Pasaman Barat mendistribusikan logistik untuk korban gempa di Jorong Timbo Abu, Nagari Kajai, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (30/4/2022) tim melihat gubuk-gubuk berukuran 2x2, terbuat dari kayu dan beratapkan seng. Usai mencari tahu, gubuk-gubuk tersebut merupakan tempat tinggal santri Pondok Pesantren Al-Mukhlisin.

Saat tim Pasaman Barat bersilaturahmi, Kepala Ponpes Al-Mukhlisin Buya Sapni Wisman menceritakan kondisi pondok yang dipimpinnya. Di mana sejak berdiri pada tahun 2010 hingga saat ini belum pernah dilakukan renovasi.

Ponpes Al-Mukhlisin didirikan karena saat itu banyak anak-anak sekitar Negari Kajai tidak bisa membaca Al-quran dan kurang paham agama Islam. Selain itu, daerah Timbo Abu cukup jauh dari pusat kabupaten dan tidak memiliki madrasah.

“Pondok ini didirikan atas inisiatif warga yang prihatin melihat anak-anak tidak mengaji. Santri di sini mayoritas anak kurang mampu. Banyak santri yang tidak sanggup membayar uang sekolah,” ucap Buya Sapni Wisman.

Saat ini, sebanyak 200 santri berasal dari berbagai daerah tengah belajar di ponpes Al Mukhlisin. Para santri tinggal di gubuk-gubuk tersebut, yang pada umumnya satu gubuk diisi oleh 2-4 santri.


Santri Pondok Pesantren Al-Mukhlisin saat membuka mushaf Al-Qur'an yang biasa digunakan mengaji. (ACTNews/Agusriadi)

Tak hanya belum mengalami renovasi bangunan, sudah lebih 5 tahun pengurus pondok tidak bisa mengganti mushaf Al-Qur’an dengan yang baru dan lebih layak. Akibatnya santri seringkali harus bergantian menggunakan mushaf Al-Qur’an yang ada. Hal ini membuat proses belajar terganggu.

“Yang sulit itu kalau mau membaca Al-Qur’an di malam hari. Jumlah mushaf terbatas dan sudah banyak yang sobek, jadi kami mengaji bergantian (menggunakan mushaf),” kata Dandi salah seorang santri Ponpes Al-Mukhlisin sambil memegang mushaf yang biasa ia gunakan.[]