Musim Dingin, Dua Ratus Ribu Warga Suriah Mengungsi

Sepanjang tahun 2019, 1.864 orang meninggal akibat perang sipil Suriah. Desember ini, ketika musim dingin berlangsung, serangan udara bertubi-tubi terjadi, membuat ratusan ribu orang berbondong-bondong mengungsi.

Musim Dingin, Dua Ratus Ribu Warga Suriah Mengungsi' photo
Anak-anak Suriah di salah satu kamp pengungsian di perbatasan Suriah-Turki. Akibat serangan berkali-kali di Wilayah Idlib, ratusan ribu orang mengungsi dan mencari tempat yang lebih aman ke Idlib Utara setelah memanasnya wilayah Marat al Numan dan sekitarnya. (ACTNews)

ACTNews, IDLIB – Musim dingin yang menyelimuti Suriah pada Desember ini tidak membuat konflik Suriah mereda. Konflik semakin memanas terhitung Jumat (20/12) hingga Rabu (25/12), 69 serangan telah terjadi. Konflik sepekan terakhir itu menewaskan lima orang anak setelah serangan udara menghatam sekolah di kamp pengungsian yang terletak di Barat Laut Suriah. Total delapan orang meninggal dunia, terdiri dari tiga dewasa dan lima anak. Serangan menyasar Desa Jobas, dekat Kota Saraqeb, sebelah selatan Provinsi Idlib, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Rabu (25/19).

Humanitarian Data Center Aksi Cepat Tanggap mencatat, sedikitnya 214.593 orang mengungsi ke wilayah Idlib Utara akibat serangan sepekan ini. Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menerangkan, sebagian besar pengungsi menuju ke wilayah Idlib dan Aleppo yang berbatasan dengan Turki. “Ratusan ribu orang mengungsi dari Idlib menuju daerah perbatasan akibat serangan udara dan penembakan terhadap warga sipil. Para pengungsi bereksodus ke wilayah utara Idlib,” terang Firdaus. Para pengungsi itu, kata Firdaus, membutuhkan bantuan musim dingin berupa paket pangan, tempat tinggal, pakaian hangat, penghangat ruangan, dan selimut.


Lebih dari delapan tahun Suriah berada dalam konflik yang menghancurkan. Suriah terjebak dalam situasi "tidak ada perang dan tidak ada perdamaian", kata para analis di forum yang diselenggarakan di Doha, Qatar, sebagaimana dirilis Al Jazeera tengah Desember lalu.

Perang di Suriah juga memartirkan hampir 1.000 orang pekerja kemanusiaan sejak 2011, menurut organisasi pengawas hak asasi manusia Suriah, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (25/19). Sebanyak 979 pekerja kemanusiaan, meninggal dunia akibat serangan pada Maret 2011-Desember 2019.

Sejak pecah perang 2011 lalu, keadaan di Suriah amat merugikan warga sipil, terutama anak-anak. Naik-turunnya politik di Suriah nyatanya tidak menghasilkan kebaikan bagi mereka yang seharusnya dapat menjalankan hidup dengan lebih baik. Bantuan kemanusiaan menjadi salah satu harapan.[]


Bagikan