Musim Dingin Mencekam Pengungsi Suriah dan Palestina di Lebanon

Musim dingin adalah bencana bagi 200 ribu pengungsi Suriah dan Palestina di Lebanon. Kedinginan imbas suhu beku, ditambah kelaparan karena harga pangan yang sangat mahal, menghiasi hari para pengungsi.

pengungsi suriah palestina di lebanon
Pengungsian Suriah di Bekaa, Lebanon (Dok. Richard Hall)

ACTNews, BEKAA – Musim dingin adalah musim yang sangat berat bagi 200 ribu pengungsi Suriah dan Palestina yang bermukim di wilayah Lembah Bekaa, Lebanon. Suhu beku membuat para pengungsi menggigil kedinginan. Suhu musim dingin di Bekaa merupakan yang terendah dibanding wilayah lainnya di Lebanon.

Firdaus Guritno dari tim GHR-ACT menerangkan, dulu Bekaa merupakan wilayah tidak berpenduduk karena terlalu dingin. “Manusia pertama menempati wilayah itu hanya para pengungsi dengan segala keterbatasan dan keterpaksaan,” katanya Selasa (18/1/2022).

Kondisi dingin makin diperparah dengan hunian yang ditinggali para pengungsi. Tidak ada bangunan tetap di sana. Para pengungsi hanya tinggal di tenda-tenda sederhana yang terbuat dari papan dan terpal. Bangunan lusuh tersebut dapat sangat mudah ditembus angin malam.

Krisis ekonomi yang terjadi di Lebanon pun sangat berdampak ke para pengungsi. Para pengungsi yang sebelumnya telah mendapatkan pekerjaan, terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja sehingga kehilangan pemasukan untuk keluarganya.

"Ekonomi Lebanon ambruk dan menyebabkan harga makanan jadi sangat tinggi. Warga Lebanon saja sudah kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan, apalagi para pengungsi yang statusnya hanya menumpang," ujar Firdaus.

Firdaus menambahkan, untuk kebutuhan pangan sehari-hari, mayoritas para pengungsi bergantung pada pemberian dari pihak luar Lebanon. Jika mereka tidak mendapatkan bantuan makanan pada hari itu, maka di hari itu pula mereka tidak akan makan sepanjang hari.

"Selain bantuan makanan, para pengungsi di musim dingin ini juga membutuhkan selimut, pakaian hangat, dan bahan-bahan untuk mempertebal tenda pengungsi mereka, sehingga angin tidak mudah masuk. Obat-obatan juga diperlukan karena banyak pengungsi yang sakit di musim dingin ini," jelas Firdaus.[]