Musim Dingin yang Semakin Mencekam Warga Palestina

Pengambilan paksa tempat tinggal, terbatasnya sumber daya serta ekonomi yang prasejahtera, hingga adanya pandemi Covid-19 seakan bakal menjadi teman penduduk Palestina melewati musim dingin di akhir tahun 2020 ini.

Wanita Palestina membersihkan perabot rumah tangga di dekat rumahnya yang hancur di selatan Jalur Gaza, Senin (13/1). Memasuki musim dingin warga Palestina harus berjuang melawan hawa dingin yang akan mecapai puncaknya pada Januari 2020. (Mohamed Salem/Reuters)

ACTNews, YERUSALEM Tiap masuk akhir dan awal tahun, Palestina dikepung musim dingin. Suhu udara menurun, bahkan pernah menyentuh angka 5 derajat Celsius. Bagi masyarakat Indonesia, musim ini seakan menjadi idaman untuk bisa dinikmati bersama keluarga. Namun, tidak bagi penduduk Palestina yang sedang dirundung duka konflik kemanusiaan menahun.

Januari 2019 lalu, di musim yang sangat dingin, keluarga Ramziyeh Sabbagh (31) yang tinggal di Yerusalem Timur terpaksa merasakan kondisi yang sangat membuat tidak nyaman. Mereka diusir paksa oleh pihak Israel karena tempat tinggalnya akan menjadi hunian bagi penduduk negara Zionis tersebut. Tenggat waktu yang diberikan hingga 23 Januari 2019, selebihnya tak ada toleransi. Padahal, menjelang akhir bulan itu, udara di Palestina, termasuk Yerusalem, sedang dingin karena musim.

“Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini, kami hanya memiliki tuhan,” ungkap Khadija Sabbagh, bibi Ramziyeh, seperti yang dikutip dari laman Al Jazeera.

Secara umum ketika masuk penghujung dan awal tahun, di Palestina akan masuk musim dingin. Masuknya musim baru ini setiap tahun seakan memaksa penduduk Palestina untuk semakin kuat menjalani kehidupan. Pasalnya, konflik kemanusiaan yang tak kunjung usai membawa dampak yang kurang bagi penduduk Palestina, khususnya ketika musim dingin. Mulai dari minimnya sumber daya seperti listrik untuk menghidupkan pemanas, rumah-rumah yang tak lagi nyaman karena adanya pengusiran oleh Israel, minimnya pasokan pangan, tinggal di pengungsian, hingga tahun 2020 ini hadirnya pandemi Covid-19 yang mengancam nyawa.

Di tahun ini, terhitung sejak bulan November, Palestina tengah bersiap menyambut musim dingin. Dari pantauan suhu udara yang dilansir dari Meteotrend, menuju akhir bulan nanti, suhu udara cenderung mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi tidak menyenangkan karena konflik kemanusiaan berkepanjangan yang berdampak pada banyak sektor kehidupan.

Setiap tahun musim dingin di Palestina, setiap tahun juga Aksi Cepat Tanggap (ACT) berikhtiar untuk mendampingi melalui bantuan kemanusiaan. Awal tahun ini saja, paket pakaian hangat telah tersalurkan untuk keluarga prasejahtera di Palestina untuk melewati musim dingin. Begitu juga di akhir 2020 hingga awal 2021 akan ada bantuan tambahan.

Said Mukkafiy dari tim Global Humanity Respose - ACT mengatakan, saat ini penggalangan sedekah untuk musim dingin Palestina masih terus berlangsung. Melalui laman Indonesia Dermawan, penggalangan sedekah dilakukan. Selain sedekah dengan nominal bebas, ACT juga menyediakan paket sedekah berupa paket pangan dengan nominal Rp560 ribu per keluarga, serta sedekah nominal Rp935 ribu untuk pakaian hangat per satu keluarga Palestina.

“Bagi penduduk Palestina, musim dingin menjadi ujian tersendiri, apalagi dengan minimnya sumber daya untuk menghidupkan mesin penghangat. Di tahun ini malah diperparah dengan adanya pandemi Covid-19 yang semakin menekan kondisi saudara kita di Palestina, serta perampasan tempat tinggal yang masih saja berlangsung,” jelas Said, Kamis (19/11).[]