Musim Hujan Tak Muncul Ketiga Kalinya, Somalia Hadapi Kekeringan Mencekam

Musim hujan gagal turun di Somalia untuk ketiga kalinya. Hal ini menyebabkan kekeringan semakin parah. Produksi pangan dari sektor pertanian dan peternakan pun hancur imbas tak adanya hujan.

kekeringan somalia
Ilustrasi. Kekeringan di Somalia. (Dok. Flickr)

ACTNews, SOMALIA – Somalia mengalami musim hujan yang buruk untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak akhir 2020. Air yang seharusnya bisa tersedia ketika musim hujan, kini tidak datang di Somalia. Membuat kekeringan di negara tersebut menjadi semakin parah dan mengkhawatirkan.

Unit Pengelolaan Informasi Air dan Tanah Somalia (FAO SWALIM) menyatakan kekeringan terjadi rata hampir di seluruh wilayah Somalia. Dari mulai timur laut hingga yang terparah adalah wilayah selatan Somalia. Sekitar 3,5 juta penduduk Somalia terdampak. 

Gagal hujan telah menghancurkan produksi pangan di bidang pertanian dan peternakan. Petani dan penggembala harus berjalan sangat jauh untuk sekadar mencari area yang masih ditumbuhi rumput. Beberapa dari mereka yang tidak berhasil menemukan minum dan pangan untuk ternaknya, harus merugi karena mayoritas ternaknya mati.

Selain itu, kondisi kekeringan yang berkepanjangan telah menyebabkan daya beli rumah tangga menurun dengan cepat. Situasi pun memburuk ketika harga pangan internasional mencapai level tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir pada bulan Oktober. Kini harga beras impor di Somalia utara dan tengah naik 50 persen, kemudian harga jagung naik hingga 60 persen.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan kekeringan Somalia akan semakin memburuk. Sebab, terdapat potensi musim hujan keempat juga akan mengalami kegagalan turun di Somalia. Kerawanan pangan pun diproyeksikan akan memburuk secara signifikan hingga Mei 2022.[]