Musim Hujan Tiba, Rohingya di Pulau Bhasan Char Khawatir Banjir dan Badai

Pengungsi Rohingya di Pulau Bhasan Char khawatir menghadapi kondisi saat musim hujan. Banjir hingga diterjang badai menghantui mereka sebab pulau tersebut sangat dekat dengan laut.

pengungsi rohingya
Ilustrasi. Potret pengungsi Rohingya. (ACTNews/Amanda Jufrian)

ACTNews, BHASAN CHAR – Pada Bulan Juni, sebagian besar wilayah Bangladesh mulai memasuki musim hujan. Termasuk di pulau kecil Bhasan Char tempat ribuan pengungsi Rohingya ditampung. Pulau yang berjarak sekitar 63 kilometer dari daratan itu dikenal sebagai pulau yang rawan terjadi badai topan. Musim hujan membuat para pengungsi khawatir.

Dalam laporan Human Rights Watch, sejumlah pengungsi Rohingya di Pulau Bhasan Char khawatir akan menghadapi kondisi yang mengerikan selama musim hujan. Banjir hingga diterjang badai menghantui mereka sebab pulau tersebut sangat dekat dengan laut.

Tidah hanya soal iklim, pengungsi Rohingya juga mengeluhkan soal fasilitas kesehatan dan pendidikan di sana. Pada akhir Mei lalu saja, ribuan pengungsi Rohingya melakukan demonstrasi saat datangnya pejabat dari badan pengungsi PBB (UNHCR) ke Pulau Bhashan Char. Mereka beramai-ramai berorasi di depan bangunan tempat pejabat tersebut berkunjung. Dalam aksi protes tersebut, para pengungsi meminta dikembalikan lagi di kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazaar.

Sekitar 18.800 pengungsi Rohingya telah dipindahkan dari wilayah Cox's Bazar. Sekitar 850 ribu orang tinggal dalam kondisi kumuh dan sempit setelah melarikan diri dari upaya pembantaian yang dilakukan militer di negara Myanmar. Rencananya, pemerintah Bangladesh juga akan menambah pemindahan sebanyak 80 ribu pengungsi ke Bhasan Char.

Human Rights Watch yang melakukan wawancara terhadap 167 pengungsi di Bhasan Char, melaporkan bahwa mereka semua dipindahkan tanpa persetujuan penuh dan diinformasikan terlebih dahulu oleh otoritas Bangladesh.

“Pemerintah Bangladesh merasa sulit untuk mengatasi lebih dari satu juta pengungsi Rohingya, sehingga mereka memaksa pengungsi pindah ke pulau terpencil yang akhirnya hanya menciptakan masalah baru,” ujar Bill Frelick, direktur hak migran dan pengungsi Human Rights Watch seperti dikutip dari Aljazeera.

“Bantuan internasional harus membantu Rohingya, serta mendesak agar Bangladesh mengembalikan pengungsi yang ingin kembali ke Cox's Bazar, atau saat para ahli mengatakan kondisi pulau terlalu berbahaya,” tambahnya.[]