Muslim di Tepian Negeri: Terisolir dan Sulit Mendapat Bimbingan Keagamaan

Kondisi muslim di wilayah-wilayah tepian negeri yang terdepan, terluar, dan tertinggal sangat memprihatinkan. Akses sulit dan ekonomi yang rendah membuat muslim kurang mendapatkan pendidikan keagamaan. Sampai-sampai, ada yang belum pernah merasakan nikmatnya olahan daging kurban.

dai tepian negeri
Niki saat mengajar membaca Al-Qur’an. (ACTNews)

ACTNews, TIMOR TENGAH SELATAN Populasi penduduk muslim di Indonesia menjadi yang terbanyak. Tersebar di kota-kota hingga pelosok desa yang sulit akses. Tak sedikit juga yang hidup dalam kondisi ekonomi prasejahtera.

Hal tersebut disaksikan langsung oleh Dai Tepian Negeri yang Aksi Cepat Tanggap (ACT) kirim untuk bertugas di Kabupaten Belu, Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), dan Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi NTT, Niki Sumantri. Di mana akses menuju perkampungan sulit dijangkau, seperti Kampung Falas, Kecamatan Soe, Kabupaten TTS, tidak bisa dilalui kendaraan tiap kali hujan melanda.

"Motor atau mobil dengan ban biasa tidak akan bisa bergerak. Hujan membuat jalan yang masih tanah jadi licin. Kalau nekat melintas, biasanya masuk ke (kubangan) lumpur,” kata Niki, Rabu (6/10/2021).

Saat hujan, Niki melanjutkan, satu-satunya cara menuju kampung tersebut adalah dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan off road. Namun, jalan kaki bukanlah pilihan, karena jarak dari Kecamatan Soe ke kampung tersebut memerlukan waktu sekitar 2,5 jam.

"Tapi kendaraan off road enggak ada," ujarnya. 

Medan yang sulit ini membuat muslim dan anak-anak Kampung Falas juga sulit mendapatkan pendidikan keagamaan Islam. Hanya ada satu penyuluh agama yang datang sepekan sekali, itu juga kalau akses menuju kampung dalam kondisi baik. 

"Mereka (muslim) bilang ‘Kita hanya punya jagung dan pisang, cuma bisa kasih ini sa, tidak punya duit. Tapi ingin anak bisa mengaji, belajar Islam, agar nanti bisa bimbing kami di sini," jelas pria kelahiran Serang ini. 


Muslim di Kampung Falas saat sedang membersihkan rumput sekitar masjid. (ACTNews)

Selain di Falas, saat mengunjungi Desa Susulaku, Kecamatan Insana, Kabupaten TTU, Niki juga mendapati hal yang sangat miris. Muslim di desa tersebut selama hidup belum pernah merasakan nikmatnya olahan daging kurban. 

"Muslim di Susulaku minoritas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah sulit, apalagi untuk kurban," jelas Niki dengan nada terbata-bata dan mata berkaca-kaca mengenang pengalamannya selama mengabdi. 

Dai Tepian Negeri merupakan program pengiriman dai ke wilayah-wilayah tepian negeri Indonesia. Para dai bertugas dakwah, membimbing muslim minoritas atau para mualaf yang berada di daerah 3T.[]