Muslim Uighur Hidup dalam Neraka Distopia

Organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, menyebut Pemerintah Cina telah menciptakan kondisi neraka distopia bagi muslim Uighur. Tindakan kejahatan kemanusiaan secara sistematis dan terorganisir juga terus terjadi.

Proses penyerahan bantuan pakaian hangat dalam Program Musim Dingin (Winter Aid) untuk muslim Uighur di Kayseri, Turki. (ACTNews)

ACTNews, XINJIANGLaporan terbaru yang disampaikan organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, terhadap kondisi muslim Uighur di wilayah Xinjiang, Cina, sangatlah memprihatinkan. Amnesty bahkan menyebut, kondisi ratusan ribu muslim Uighur sudah berada di neraka distopia,  yang mana penyiksaan dan penganiayaan terus terjadi setiap harinya.

"Laporan ini harus mengejutkan hati nurani umat manusia di seluruh dunia, muslim Uighur telah menjadi sasaran doktrinasi, pencucian otak, penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan diri di kamp-kamp interniran Cina. Sementara jutaan muslim lainnya hidup dalam ketakutan di tengah pengawasan Pemerintah Cina," ujar Agnès Callamard, Sekretaris Jenderal Amnesty International, Kamis (10/6/2021).

Dalam laporan setebal 160 halaman ini, Amnesty mewawancarai 55 mantan tahanan muslim Uighur, yang mana puluhan tahanan tersebut mengaku telah alami penyiksaan fisik.

Ironisnya, Pemerintah Cina malah menyangkal semua tuduhan pelanggaran kemanusiaan bagi muslim Uighur. Mereka justru berdalih, perlakuan kepada muslim Uighur demi pemberantasan kekerasan, terorisme, dan separatisme. 

Sebutan neraka distopia bagi muslim Uighur di Xinjiang diperparah dengan tindakan keji yang dilakukan Pemerintah Cina, mereka melakukan sterilisasi paksa, aborsi, dan pemindahan penduduk untuk mengurangi jumlah muslim Uighur. Tak hanya itu, 1.046 ulama Uighur sudah dijebloskan ke penjara dan dipaksa melanggar budaya dan akidah Islam.

Sejarah Kekerasan Muslim Uighur

Pada 1990-an kekerasan muslim Uighur mulai terjadi akibat sentimen kebencian yang dibangun oleh kelompok orang Cina marga Han, mengakibatkan berbagai tindakan penindasan dan perlakuan tidak adil pemerintah dan otoritas Cina.

Kekerasan Pemerintah Cina makin meningkat pada 2009, mengakibatkan 200 muslim Uighur tewas dan sekitar 1.700 lainnya cedera dalam kerusuhan hebat di Kota Urumqi, Xinjiang.

Pada Maret 2017, Pemerintah Xinjiang mengambil langkah hukum dengan mengeluarkan Undang-Undang Anti Ekstremisme, yang mana melarang orang untuk menumbuhkan jenggot panjang dan mengenakan kerudung di depan umum.

Pengawasan terhadap muslim Uighur juga makin meningkat, yakni pemasangan kamera-kamera pengawas, pos-pos pemeriksaan, dan peningkatan patroli polisi di sebagian besar daerah yang dihuni oleh muslim Uighur.

Sementara itu, tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap Said Mukaffiy sangat prihatin atas nasib saudara sesama muslim di Uighur dan mengutuk keras atas kekejaman yang dilakukan Pemerintah Cina. “Innalillahi, banyak muslim Uighur setiap hari disiksa dengan kejam. Umat muslim di Indonesia harus selalu berada di garda terdepan untuk membantu mereka,” ucap Said.

Said berharap bantuan Sahabat Dermawan Indonesia harus selalu diikhtiarkan, pada April 2021 lalu, ACT berhasil memberikan bantuan paket pangan kepada Diaspora Uighur di Karyseri, Turki. Tercatat 300 muslim Uighur menerima manfaat bantuan ini.[]