Nasib Anak-Anak Yaman di Ambang Kematian

Nasib Anak-Anak Yaman di Ambang Kematian

Nasib Anak-Anak Yaman di Ambang Kematian' photo

ACTNews, HODEIDAH – Lima orang anak meninggal dunia akibat serangan di Distrik Tahita, Hodeidah Selatan, Kamis (28/2). Kelimanya meninggal karena serangan yang menghancurkan rumah mereka. Kabar itu disampaikan Badan PBB untuk Dana Anak (UNICEF).

Direktur Eksekutif Unicef Henrietta Fore mengatakan, perang saudara di Yaman terus merenggut korban anak-anak. “Di Yaman, anak-anak tidak mempunyai jaminan keamanan dalam melakukan kegiatan yang mereka sukai, seperti pergi ke sekolah atau menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-teman. Perang bisa menjangkau anak-anak di mana pun mereka berada, bahkan di rumah mereka sendiri,” kata Fore sebagaimana dirilis PBB, Sabtu (2/3). Fore juga menjelaskan, sedikitnya delapan anak meninggal dunia setiap hari di 31 zona konflik negara itu.

Kematian anak di Yaman memang menjadi kenyataan pilu. Pasalnya, ada sejumlah faktor besar yang memicu kematian anak-anak di Yaman, antara lain perang dan malnutrisi. Sekitar 85.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia akibat kelaparan sejak ekskalasi konflik di Yaman, sebagaimana dilaporkan CNN. Malnutrisi pada anak-anak adalah salah satu permasalahan dalam krisis kemanusiaan Yaman.

Fakta yang sama juga ditemukan The Washington Post (TWP), dalam liputan ke desa Al Jarb, sebuah dusun terpencil yang dikelilingi oleh gunung-gunung terjal di pedalaman Provinsi Hajjah, mereka bertemu sejumlah anak dengan kondisi malnutrisi parah. Abdo Saleh (3). Maysa Mohammed Ali (12), Samy dan Mohammed Shuee (10) adalah anak-anak dengan kondisi memprihatinkan. Shuee, disebutkan TWP, memiliki lengan dan kaki yang seukuran tongkat. Selama tiga tahun, Shee belum pernah diperiksakan ke dokter.

Selain malnutrisi dan perang, penyebab kematian di Yaman juga disebabkan penyakit. Sejauh ini, kolera menjadi penyakit mematikan. Kementerian Kesehatan Masyarakat dan Kependudukan Yaman melaporkan, setidaknya 7419 dugaan kasus kolera dengan delapan kematian terkait selama minggu epidemiologis 5 (28 Januari - 3 Februari) tahun 2019. Jumlah kumulatif total dugaan kasus kolera dari 1 Januari 2018 hingga 3 Februari 2019 adalah 413.770, 32 persennya terjadi pada balita, berdasarkan data yang dikeluarkan Reliefweb. Pemerintah Yaman melaporkan, kasus kolera terjadi paling banyak di Hodeidah (1583 kasus), Amanat Al Asimah (978 kasus), Arman (902 kasus), Ibb (882 kasus), dan Sana'a (850 kasus). []

Bagikan