Nasib Getir Anak dan Balita di Pengungsian Gempa Sulbar

Dampak bencana tak memandang usia. Di Sulbar, tak sedikit anak dan balita kini tinggal di pengungsian dengan kondisi terbatas, mulai dari ancaman suhu dingin dan lembab hingga asupan makanan instan yang minim gizi.

Seorang balita sedang tertidur di tenda pengungsian di Desa Lombong Timur, Kecamatan Malunda, Majene, Selasa (19/1/2021). Masuk sepekan pascagempa, bantuan untuk anak dan balita masih minim. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Hanum menangis saat kantuknya mulai ia rasakan. Sang ibu pun segera menggendong dan meletakkannya di ayunan yang dikaitkan ke tiang penyangga terpal yang digunakan sebagai tenda pengungsian. Udara dingin ditambah kondisi sedang hujan menjadikan sarung tipis sebagai satu-satunya sumber kehanganan anak usia 15 bulan tersebut. Kasur yang dijadikan tempat tidur bersama orang tuanya pun lembab karena terkena tempias dan resapan air dari tanah yang menjadi alas tempat pengungsian sementara tersebut.

Hamun sendiri merupakan salah satu balita penyintas bencana gempa bumi Sulawesi Barat. Ia dan orang tuanya tinggal di terpal pengungsian Desa Binangan, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju. Hingga Rabu (20/1/2021), Hanum dan orang tuanya masih bertahan di pengungsian. Kondisi rumah yang tak lagi layak pakai dan membahayakan karena rawan runtuh pasca diguncang gempa menjadi alasan mereka tetap tinggal di pengungsian.

“Tidak ada lagi pilihan (tetap tinggal di pengungsian), tembok rumah itu retak, goyang-goyang, takut roboh, harus renovasi,” Linda, ibu Hamun.

Linda sebenarnya tidak tega mengajak anaknya mengungsi. Apalagi di pengungsian kondisinya serba terbatas. Tendanya pun tanpa dinding, membuat anak seusia Hamun akan mudah merasakan dingin. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain. Rasa takut dan ancaman runtuhan rumah menjadi alasan kuat bagi Linda mengajak Hamun ke tempat yang lebih aman, yaitu pengungsian.

Senasib dengan Hamun, Rihan, pengungsi anak yang tinggal di tenda terpal yang ada di perkebunan Desa Lombong, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene juga harus merasakan kondisi yang serba terbatas di usianya yang masih sangat dini. Bahkan, Rihan sempat merasakan dingin yang luar biasa ketika awal mengungsi dari rumahnya saat gempa terjadi Jumat (15/1/2021) dini hari. Saat itu, kondisi sedang hujan dan orang tua Rihan pun tak memiliki persiapan di kondisi bencana seperti ini.

“Baru sekarang gempa sebesar ini. Waktu kabur tak sempat membawa apa-apa, yang penting selamatkan diri dan keluarga saja dahulu,” ungkap Hidayatullah, Ayah Rihan, Senin (18/1/2021). Hidayatullah membawa Rihan dan keluarganya ke kebun yang ada di perbukitan. Rumahnya sendiri berada tak jauh dari bibir pantai yang membawa kekhawatiran datang tsunami selepas gempa.

Hamun dan Rihan merupakan sedikit dari balita dan anak-anak yang ikut mengungsi keluarganya dampak gempa bumi M6,2 yang mengguncang Sulawesi Barat pekan lalu. Di pengungsian, kondisi mereka terbatas, bahkan tak sedikit pengungsian yang tanpa atap atau alas hingga beberapa hari setelah gempa.


Pengungsi anak di Labuan Rano, Kecamatan Tappalang Barat, Kabupaten Mamuju sedang mengonsumsi mi instan dan nasi, Kamis (22/1/2021) malam. Makanan tersebut menjadi makanan pokok mereka selama menjadi penyintas bencana. (ACTNews/Eko Ramdani)

Ancaman penyakit

Sebagai orang tua, Hidayatullah jelas mengkhawatirkan kondisi anaknya. Di pengungsian, makanan serba terbatas, jarang ada makanan penunjang gizi anak. Saat ACTNews berkunjung ke tenda pengungsian Hidayatullah, Rihan sedang mengonsumsi mi instal hasil bantuan kemanusiaan. Mengakali agar ada tambahan gizi, Hidayatullah menambahkan jagung sebagai pengganti nasinya.

“Saya belikan jagung, saya tidak mau anak saya makan mi instal terus, tapi memang hanya mi yang tersedia,” ungkapnya.

Selain minimnya makanan penuh gizi untuk balita dan anak, tenda pengungsian yang apa adanya pun menjadi ancaman bagi kesehatan. Udara dingin tanpa penghangat membuat sewaktu-waktu anak dan balita bisa terserang berbagai penyakit. Sedangkan, pelayanan kesehatan belum optimal dan fasilitas kesehatan jauh jaraknya.[]