Nasib para Guru Honorer di Pekalongan

Puluhan tahun mengabdi, guru-guru honorer di Kota Pekalongan masih harus berjuang mencari penghasilan tambahan. Diakibatkan gaji yang diterima masih jauh di bawah standar.

guru di pekalongan
Kondisi rumah Herlinawati yang sering terkena banjir rob Pantai Utara Jawa. (ACTNews)

ACTNews, PEKALONGAN – Puluhan tahun mengabdi, gaji guru-guru honorer di Pekalongan masih di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Kota Pekalongan 2021, yakni Rp2.139.754. Namun para guru tidak bergeming dan tetap melanjutkan perjuangannya untuk menebar ilmu. 

Berikut ini beberapa potret gaji dan kondisi guru honorer di Kota Pekalongan.

Herlinawati, 23 Tahun Menjadi Guru

Profesi guru sudah dijalani Herlina selama 23 tahun. Gajinya saat ini Rp800 ribu per bulan. Sang suami bekerja sebagai pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu, sehingga pemasukan tetap hanya berasal dari gaji Herlina. Sebelum pandemi, Herlina membuka jasa sebagai guru les, namun terpaksa ditiadakan selama pandemi. 

Keinginan Herlina untuk merenovasi rumahnya pun tak bisa direalisasikan. Rumah Herlina terletak di daerah yang terkena banjir rob yakni Kelurahan Tirto, Kecamatan Tirto, Kota Pekalongan. Banjir rob yang terjadi merusak rumah Herlina sedikit demi sedikit. 


Herlinawati saat sedang mengajar. (ACTNews)

“Lantainya sekarang tanah, tembok terkikis air dan jadi lembab. Ingin renovasi tapi dananya belum ada,” kata Herlina saat ditemui tim ACT Pekalongan, Rabu (8/9/2021). 

Dharwanto, 22 Tahun Menjadi Guru

Desa Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, merupakan sebuah wilayah di Pekalongan yang sering tergenang banjir rob Pantai Utara. Di desa ini pula Dharwanto, seorang guru honorer sekolah dasar di Tegalrejo, tinggal. 

Rumah Dharwanto sering terkena banjir rob, sementara gaji yang ia terima dari sekolah Rp800 ribu per bulan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum lagi, ia juga membutuhkan biaya untuk merenovasi rumah. Demi menambah pemasukan, Dharwanto menjual berbagai jenis tanaman hias. Sayang, usahanya sepi akibat pandemi. 


Suasana kelas Dharwanto. (ACTNews)

Tim program ACT Pekalongan Aditya Nugraha menjelaskan, meski usaha Dharwanto sepi, namun ia sudah berhasil menggerakkan warga di sekitarnya untuk membudidayakan tanaman hias. “Ini menjadi kebanggan dan prestasi tersendiri untuknya,” kata Aditya kepada ACTNews, Jumat (24/9/2021). 

Wahyu Wijan Narko, 12 Tahun Menjadi Guru Honorer

Selama 12 tahun menjadi guru honorer, Wahyu menerima gaji Rp500 ribu per bulan. Saat ini ia tinggal di rumah salah seorang kerabatnya di Panjang Wetan, Pekalongan Utara, sementara anak-anak dan istrinya tinggal di Tegal. 

Di samping menjadi guru, Wahyu memelihara dan menjual burung lovebird. Namun akibat pandemi, pembelinya menurun. “Ingin anak sama istri ikut ke Pekalongan, tapi pemasukan enggak ada, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri,” katanya, Selasa (14/9/2021).