Nasib Pengungsi Uighur Semakin Tak Menentu Kala Pandemi

Sebagian diaspora Uighur di Istanbul, Turki, tidak memiliki pekerjaan menjanjikan untuk mencukupi kehidupan mereka. Pandemi corona baru menutup lapangan kerja aktif.

Nasib Pengungsi Uighur Semakin Tak Menentu Kala Pandemi' photo
Aksi Cepat Tanggap memberik dukungan pangan untuk pengungsi Uighur di Turki. (ACTNews)

ACTNews, ISTANBUL – Tidak ada lapangan kerja aktif yang bisa diisi oleh pengungsi Uighur di Istanbul selama pandemi corona baru. Itu berarti tidak ada sumber penghasilan yang bisa dimanfaatkan. Para pengungsi itu pun banyak mengandalkan bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sekretaris Jenderal Pendiri Pusat Nasional Turkistan Timur yang berbasis di Istanbul, Ismail Cengiz mengatakan, sekitar 35.000 orang Uighur tinggal di Turki, sejak 1960-an. Turki bagi sebagian pengungsi Uighur adalah tempat berlindung.

Saat ini, lebih dari 60.000 Uighur berada di Turki. Tidak semua dari diaspora Uighur mendapatkan kehidupan yang layak. Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap melaporkan, banyak diaspora Uighur yang semakin tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar selama pandemi.

“Masyarakat diaspora Uighur di Turki cukup terdampak Covid-19, dengan tiadanya lapangan pekerjaan aktif selama masa wabah. Bahkan saat ini jumlah kasus Covid-19 di Turki mencapai lebih dari 250.000 kasus positif,” kata Firdaus.

Aksi Cepat Tanggap pun membagikan bantuan tunai untuk keluarga Uighur prasejahtera dan anak-anak yatim calon hafiz pada Rabu (19/8) dan Kamis (20/8). Lebih kurang, 1.500 jiwa turut menikmati bantuan tersebut.

“Aksi Cepat Tanggap bersama para mitra berikhtiar memberikan bantuan terbaik bagi diaspora Uighur yang hidup prasejahtera. Langkah kami juga bisa dikuatkan para dermawan dengan memberikan sedekah terbaik melalui rekening BNI Syariah 0096110239 atas nama Aksi Cepat Tanggap,” kata Firdaus.

Hingga saat ini, sebagian pengungsi Uighur di Istanbul masih melakukan unjuk rasa terhadap Cina. Mereka mempertanyakan keberadaan keluarga yang tidak dapat dikontak hingga dugaan represi yang dialami anggota keluarga.

Sabtu (22/8) lalu, Organisasi Kongres Uighur Dunia bahkan mengajak warganet, melalui akun twitter mereka, memperingati hari peringatan internasional atas korban kekerasan karena agama dan kepercayaan. “Kami mengingat untuk Uighur dan semua yang mengalami kekerasan karena dasar agama, budaya dan etnis mereka.”[]


Bagikan