Nasib Usaha Kecil Henih di Masa Pandemi

Dipindahkannya aktivitas pendidikan ke rumah masing-masing menjadi ujian berat bagi Henih, penjual makanan ringan di SDN Tirtawening, Tasikmalaya. Akan tetapi, ia tak menyerah, emperan rumahnya kini dimanfaatkan menjadi lokasi berjualan baru, walau penghasilannya sangat menurun dibandingkan hari-hari biasa.

Nasib Usaha Kecil Henih di Masa Pandemi' photo
Henih (kiri) sedang melayani anak-anak yang membeli jualan yang ia gelar di emperan rumahnya. Sejak pandemi, anak-anak yang tinggal di sekitar rumahnya di Cicondong, Tasikmalaya menjadi pembeli utama, hal ini pun berpengaruh pada berkurangnya pendapatan. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA – Hari mulai siang, sinar matahari pun mulai terasa panas. Warga Kampung Cicondong, Desa Cibeuti, Kawalu, Tasikmalaya tengah sibuk meramaikan prosesi pemotongan hewan kurban di pelataran SDN Tirtawening, Sabtu (1/8). Setelah sekian lama, akhirnya warga bisa melihat dan menikmati daging sapi dari Global Qurban - ACT yang menyapa mereka. Namun, keriuhan itu tak menjadikan Henih (38) ikut meramaikan suasana. Ia sibuk di rumahnya, menyiapkan bahan-bahan makanan ringan yang bakal ia jajakan di depan tempat tinggalnya itu.

Henih merupakan salah satu warga Cicondong. Ibu dua anak ini sehari-harinya berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Tak besar memang, ia hanya menjual makanan dan minuman ringan, anak-anak sekolah dan sekitar rumahnya menjadi target utama pembelinya. Namun, sejak awal pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Henih mengaku pembelinya semakin sepi. Hal tersebut karena murid dan aktivitas pendidikan di sekolah yang biasa menjadi tempatnya berdagang, SDN Tirtawening, dipindahkan ke rumah masing-masing. Kondisi ini pun berlanjut, meskipun kini sudah memasuki era normal baru.

“Dari waktu sekolah libur itu, pendapatan dikit banget,” ungkapnya saat ditemui ACTNews, Sabtu (1/8).

Dagangan yang Henih jual ialah minuman seduh, serta berbagai olahan aci, agar-agar, dan makanan ringan lain yang ia buat sendiri. Sejak 2014 ia mulai berjualan. Tujuan awalnya untuk membantu keuangan keluarga karena sang suami yang bekerja serabutan dengan gaji yang tak menentu. Selain itu, berbagai olahan makanan yang ia buat selain untuk dijual, juga untuk dikonsumsi anak-anaknya sendiri agar tak jajan di tempat lain.

Suami Henih sendiri saat ini sedang tidak bekerja akibat pandemi Covid-19. Berbagai proyek pekerjaan yang membutuhkan buruh mulai sepi, sehingga suami Henih pun tak mendapatkan pekerjaan. Kini, dagangan skala kecil yang Henih jalankan menjadi satu-satunya pemasukan untuk kebutuhan keluarga dan meningkatkan biaya pendidikan karena harus membeli kuota internet untuk belajar anak-anaknya. Setiap hari, ia hanya meraup untung hingga Rp50 ribu. Menurunnya pendapatan bukan hanya karena sepinya pembeli di masa pandemi, namun juga karena kurang strategisnya lokasi berjualan Henih sebelumnya.


Henih di depan bangunan yang bakal menjadi warung barunya. Bangunan sederhana itu Henih dan suaminya bangun dengan dana dari sedekah modal usaha ACT. (ACTNews/Eko Ramdani)

Sedekah modal usaha

Pada Juni lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan sedekah modal usaha ke perempuan pelaku usaha skala kecil di Kampung Cicondong, yang saat ini mulai merasakan kemarau. Henih merupakan salah satu penerima sedekah modal ini.

Di seberang rumahnya, yang hanya terpisah oleh gang kecil, berdiri sebuah bangunan dengan bahan bambu dan kayu lainnya. Warung sederhana yang dibangun dari sedekah modal itu bakal ditempati Henih untuk berdagang.

“Kalau di sini kan jadi bisa lebih strategis dan kelihatan dari jalan ramai,” jelas Henih ketika ditanyakan alasannya membangun bangunan sederhana itu.

Nantinya, jika kegiatan sekolah sudah dimulai lagi, Henih akan tetap berjualan di sekolah saat jam belajar. Setelahnya, ia bakal melanjutkan berdagang di tempat barunya itu. Ia pun sangat bersyukur dengan adanya modal usaha dari program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI). Saat ini setidaknya, ia memaksimalkan usaha skala kecilnya untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya mengatakan, saat ini bentuk nyata dari kebaikan sedekah masyarakat yang disalurkan melalui ACT dapat terlihat jelas di depan rumah Henih.

“Ini semua merupakan wujud nyata dari kedermawanan masyarakat yang membantu para pengusaha skala kecil di tengah melemahnya ekonomi akibat pandemi. Namun, ini tak cukup, karena masih banyak perempuan pelaku usaha serupa yang membutuhkan bantuan,” ujar Fauzi, Sabtu (1/8).[]


Bagikan