Nengsih Pertahankan Warung Nasi sebagai Sumber Rezeki

Penghasilan keluarga Nengsih (48) berkurang akibat sang suami berhenti bekerja. Ia pun mengandalkan warung nasi sebagai sumber penghasilan keluarga.

Nengsih sedang menjaga warung nasi di depan rumahnya Jumat (9/10) sore. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Nengsih (48) bersama suaminya kembali menunggu dagangan selepas azan asar. Nasi dan lauk pauk jualan mereka masih banyak. Warung masih harus dibuka hingga pukul 20.00 WIB.

Bertahun Nengsih menjalani usaha warung nasinya. Ia bahkan lupa dari kapan memulai usaha itu. “Tahunan mah ada, semenjak anak saya yang gadis belum menikah sudah mulai (berjualan). Dahulu kan di sini bikin warung, sekarang dibikin rumah (untuk anak),” cerita Nengsih di rumahnya yang ada di sekitar Dermaga Kali Adem, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara pada Jumat (9/10).

Berjualan lauk-pauk menjadi usaha yang sementara yang ia andalkan untuk memutar ekonomi keluarga. Sementara sang suami kini bekerja sebagai nelayan. Suami Nengsih sebelumnya bekerja di tempat wisata bakau, namun tempat wisata itu tutup.

“Sempat enggak kerja, ini sekarang juga kan enggak kerja. Kadang-kadang cari ikan, tetapi kalau enggak ada (kegiatan mencari ikan), ya kosong. Bantuin saya kalau dagang waktu malam. Jadi untuk sehari-hari andelin (penghasilan) dari jualan nasi saja. Biaya anak sekolah juga dari sini. Masih ada si bontot soalnya yang sekolah,” ujar Nengsih.


Lauk pauk yang tersisa di atas meja dagang Nengsih. (ACTNews/Reza Mardhani)

Beruntungnya Nengsih, penghasilan dari berdagang nasi masih terhitung cukup untuk keluarganya. Jika kondisi sedang ramai, ia bisa menghasilkan omzet Rp500-600 ribu dalam satu hari. Meskipun hasil tersebut jauh berkurang dibandingkan sebelum pandemi.

“Kalau hasil (melaut) dari bapak dijual, biasanya ada duit (tambahan). Karena pandemi sekarang sepi pembeli ikan. Suka mengeluhlah suami saya,” jelas Nengsih. Jika ada kesempatan, Nengsih ingin menambah lauk pauk dari jualannya agar pendapatannya ikut berkembang.

Bantuan datang melalui tangan dermawan. Global Wakaf – ACT memberikan bantuan Wakaf Modal Usaha Mikro untuk membantu Nengsih memperkuat usahanya di masa sulit.


Selain Nengsih, ada 29 penerima manfaat lainnya yang menerima bantuan dari Wakaf Modal Usaha Mikro ini secara bertahap. Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT berharap bantuan ini dapat meringankan kondisi sulit yang kini harus dilalui para penerima manfaat yang sebagian besar adalah para ibu pelaku usaha.

“Bisa dibayangkan di masa pandemi ini, para ibu kini menjadi tumpuan keluarga juga dengan usaha mereka. Oleh karenanya kami mengajak para dermawan untuk terus menunjukkan kepeduliannya melalui program ini. Semoga dengan dukungan para dermawan, manfaat dari program ini dapat terus meluas,” ajak Wahyu.[]