Nestapa Rakyat Palestina di Antara Kemiskinan dan Gempuran Zionis

Tepat 17 Oktober masyarakat dunia memperingati Hari Pemberantasan Kemiskinan Internasional. Namun, apa daya kemiskinan masih dirasakan rakyat Palestina di tengah gempuran zionis Israel.

Rakyat Palestina Miskin
Ilustrasi. Dua orang anak Palestina menerima bantuan paket pangan ACT di wilayah Jabalia, Jalur Gaza. (ACTNews)

ACTNews, PALESTINA – Tepat pada 17 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Pengentasan Kemiskinan Internasional. Peringatan ini tertuang dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 1948 yang menitikberatkan bahwa kemiskinan merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan menegaskan kebutuhan untuk bersama-sama memastikan bahwa hak-hak ini dihormati.

Sayangnya, pelanggaran hak asasi manusia berupa blokade yang menyebabkan kemiskinan dan meningkatnya tingkat pengangguran menjadi momok di Palestina. Dua hal ini menjadi penyebab utama kerawanan pangan yang melanda warga jalur Gaza. Secara skala, tujuh dari sepuluh warga Gaza hidup dalam kemiskinan, setengah dari angkatan kerja di Gaza menganggur, dan tujuh dari sepuluh rumah tangga di Gaza mengalami kerawanan pangan.

Peneliti Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mezan Hussein Hammad menuturkan, kesulitan akibat kemiskinan di Gaza juga dialami kalangan anak-anak dalam memperoleh hak-hak dasar. Ia menuturkan zionis Israel telah merusak peluang anak-anak Gaza untuk mendapatkan akses kehidupan, mobilitas, dan perawatan medis.

“Israel terus melanggar hak anak-anak, baik di Gaza atau Tepi Barat, melalui penangkapan, penganiayaan fisik atau psikologis, serta membatasi pergerakan mereka,” ungkap Hammad.

Kehadiran pandemi Covid-19 turut menambah nestapa warga Palestina. Persentase rumah tangga miskin meningkat menjadi 64 persen di Gaza dan 30 persen di Tepi Barat. Lebih dari dua juta warga Gaza menderita di tengah blokade zionis Israel masih terus berlangsung sejak 2006.

Blokade yang dilancarkan oleh Israel juga menyebabkan sulitnya akses warga Gaza untuk mendapatkan perawatan kesehatan di rumah sakit di Tepi Barat maupun Israel. “Mereka menolak permintaan rujukan pasien, dan terkadang hal ini menyebabkan kematian,” tambah Hammad.


Dampak eskalasi militer perparah kehidupan Gaza

Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) melaporkan, selama eskalasi di Gaza pada Mei lalu, sebanyak 261 warga Gaza meninggal, termasuk 67 anak-anak. Bahkan, lebih dari 2.210 warga Gaza terluka, termasuk 685 anak-anak dan 480 wanita, beberapa di antaranya berisiko menderita cacat seumur hidup.

Gempuran zionis Israel juga mengakibatkan sebanyak 113.000 warga Gaza mencari perlindungan kepada Agensi Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA). Adapun masih ada sekitar 8.250 warga Gaza yang mengungsi akibat rumahnya hancur atau rusak parah sehingga tidak dapat dihuni.

Di samping tidak memiliki rumah untuk berlindung, warga Gaza mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan di tengah perekonomian dan pasar tenaga kerja yang nyaris hancur. Organisasi Buruh Internasional (ILO) melaporkan, sekitar 80 persen warga Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan Internasional.[]