Ngobrol Kerelawanan Bersama Mahasiswa Politeknik Negeri Tanah Laut

Ngobrol Kerelawanan Bersama Mahasiswa Politeknik Negeri Tanah Laut

ACTNews, BANJARMASIN - Diselingi gelak tawa dan canda, sekumpulan orang tampak asik berdiskusi di salah satu ruangan Kampus Politeknik Negeri Tanah Laut, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sabtu (15/12), dalam suasa cair, MRI-ACT berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang dunia kemanusiaan dan kerelawanan dengan mahasiswa Politeknik Negeri Laut.

“Ikutlah berkegiatan sosial. Bertemu dengan mereka yang kurang beruntung. Lakukan kebaikan sedikit demi sedikit. Jadikan kebiasaan, maka insya Allah semangat kerelawanan akan terus bergelora di hati kita,” kata Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan (ACT Kalsel) Arie Setiawan menjawab pertanyaan Andri, salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa Mesin Otomotif. Sebelumnya Andri mengeluhkan bahwa mahasiswa sekarang begitu disibukkan dengan tugas kuliah sehingga cenderung acuh dengan lingkungan. Mendengar jawaban tersebut, Andri tersenyum dan menganggukan kepala.

Latifa, penggerak pramuka di kampus itu, turut membuka suara. “Bagaimana sih rasanya jadi relawan?” sahutnya.

Kali ini, Bagus Setiawan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banjarmasin yang menimpali. “Jadi relawan itu keren. Tambah pengalaman, tambah teman. Pokoknya nggak rugi deh jadi relawan,” ucapnya sembari mengacungkan kedua jempolnya dan disambut gemuruh tepuk tangan para peserta diskusi.

“Dengan menjadi relawan maka kita bisa bermanfaat untuk orang lain, artinya menjadi ladang amal bagi kita,” Ketua MRI Tanah Laut Fuad Amin menambahkan.

Fuad yang beberapa waktu lalu juga telah ditugaskan ke Lombok, turut berbagi pengalaman soal bagaimana menjadi relawan di lokasi bencana. “Relawan itu tak cukup berbekal semangat. Harus punya pengetahuan dan keterampilan. Bahkan untuk mengangkat logistik pun ada ilmunya. Jadi jangan dianggap remeh ya tugas relawan,” ujar lelaki berbadan kurus itu tegas.

Ketua MRI Banjarmasin Muhammad Riadi yang juga hadir tak mau ketinggalan berbagi cerita. “Waktu saya bertugas di Sulawesi Tengah, sempat beberapa kali merasakan gempa. Itu pengalaman yang belum pernah dirasakan di sini (Kalimantan). Anehnya, rekan saya ini pas ada gempa, kami sudah berlarian, eh dia masih tidur nyenyak di dalam posko. Untungnya tak terjadi apa-apa,” kisahnya sembari menunjuk Bagus Setiawan yang duduk di sampingnya. Sontak cerita itu mengundang tawa peserta diskusi.

Begitulah suasana Ngobrol Kemanusiaan MRI - ACT yang diselenggarakan di Kampus Politeknik Negeri Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Ketua BEM Politeknik Negeri Tanah Laut Amanda Ika Adistya mengaku senang sekali dan tak menyangka acara diskusi santai itu berlangsung seru. “Alhamdulillah, senang sekali bisa menghadirkan ACT dan MRI di kampus kami. Apalagi bisa menyimak langsung pengalaman-pengalaman hebat para relawan. Terima kasih ACT dan MRI,” ucap mahasiswi semester lima itu kepada tim MRI – ACT.

Gelaran ngobrol kemanusiaan itu memang terlaksana atas kolaborasi MRI-ACT Kalsel dan BEM Politeknik Negeri Tanah Laut. Beberapa perwakilan Unit Kesehatan Mahasiswa (UKM) hadir sebagai peserta. Selain itu, juga hadir para anggota MRI Tanah Laut.

"Berbagi memang tak harus melulu soal materi. Namun, dengan ilmu dan semangat insya Allah mampu menginspirasi," pungkas Arie. []