Nikmat Kurban Pererat Kebersamaan Keluarga di Uganda

Nikmat Kurban Pererat Kebersamaan Keluarga di Uganda

Nikmat Kurban Pererat Kebersamaan Keluarga di Uganda' photo

ACTNews, MBALE - Berbicara mengenai realitas hidup di pelosok Uganda, khususnya di wilayah sebelah timur Uganda, banyak muslim berada di bawah garis kemiskinan. Tidak memiliki pekerjaan sama sekali atau bekerja hanya menjadi petani, pendapatan mereka tidak lebih dari $1 per hari.

Mengulas momen Iduladha 2018 lalu, Said Mukaffy dari tim Global Qurban mengisahkan, sebagian besar muslim di sana mengaku jarang memakan daging, terlebih saat Lebaran Kurban. Mereka hanya bisa mengonsumsi apapun yang didapatnya dari bercocok tanam.

“Jangankan membeli daging, untuk memperoleh bumbu untuk mengolah dagingnya pun mereka tak mampu. Saya melihat mereka memasak daging yang diberikan tanpa memakai bumbu sama sekali. Mereka hanya memasak daging sampai menghitam, lalu disantap begitu saja,” cerita Said.

Meski rasanya hambar tanpa bumbu, kenikmatan daging kurban mengikat kebersamaan dalam keluarga. Momen kebersamaan ini dirasakan Mutono Alasia (67), salah seorang ibu asal Distrik Nabilatuk di timur Uganda. Mutono olah daging yang hanya didapatkan setiap tahunnya itu dengan sederhana: daging dimasak di wajan yang diberi air secukupnya. Daging itu lantas ia masak hingga air tiris dan daging agak menghitam. Potongan-potongan daging yang telah matang itu ia sajikan untuk tujuh anggota keluarganya Mutono tak sendiri.

“Lebaran kali ini berbeda, daging kurban yang kami terima menambah standar kesehatan keluarga kami. Nutrisi daging seperti ini jarang kami rasakan. Alhamdulillah, semoga Allah membalas kurban dari Indonesia ini,” tutur Mutono kepada tim Global Qurban di Uganda, Iduladha 2018 lalu.

Sementara Tazenya Hussain (63) asal Distrik Budaka mengatakan, dirinya dan keluarga tidak pernah mampu membeli sepotong daging sekali pun. Pekerjaan Tazenya hanya sebagai petani kecil, tak banyak pendapatan yang ia terima. Akibatnya, ia pun masuk ke dalam barisan penduduk pelosok Uganda yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Daging kurban dari Indonesia ini membuat perayaan kurban kami lengkap, ada kebahagiaan seperti muslim lainnya. Doa saya agar Allah memudahkan seluruh urusan kalian di Indonesia,” ungkap Tazenya.

Menghabiskan Hari Raya Idulaha hingga Tasyrik terakhir di Uganda, setidaknya 554 sapi dari Global Qurban disembelih di delapan distrik berbeda, salah satunya Mbale. Bahkan distribusi daging kurban sampai menjangkau titik-titik paling pelosok dengan populasi muslim yang hidup di bawah garis kemiskinan.

“Mbale menjadi kota teramai dari seluruh wilayah distribusi Global Qurban di Uganda. Dari Mbale, mayoritas sapi-sapi Global Qurban didistribusikan lebih menjauh lagi, ke lokasi terpencil tempat Muslim Uganda bertahan menjaga agamanya,” kata Said.

Kedatangan Global Qurban di Uganda sendiri merupakan untuk pertama kali. Tak butuh banyak alasan untuk tim meluaskan jangkauan distribusi kurban hingga ke Uganda. Pasalnya tingkat kemiskinan yang besar, kekurangan bahan pangan, kekeringan air, juga anak yang kekurangan banyak terjadi di Uganda; terutama pelosok timur Uganda yang mengalami kemiskinan ekstrem. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan