Nono Haryono, Guru Honorer di Subang Satu per Satu Temui Murid untuk Belajar

Sudah 19 tahun Nono menjadi guru dengan status honorer. Saat awal menjadi guru tahun 2002, Nono seringkali harus mengajar di gubuk tengah sawah, kebun, atau di rumah muridnya, sebab banyak anak-anak enggan pergi ke sekolah meski sudah mendaftar.

nono haryono
Nono saat menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT.(ACTNews)

ACTNews, SUBANG – Saban hari, Nono Haryono harus menempuh jarak 21 kilometer untuk sampai ke sekolah dasar tempat mengajar di Cigadung, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang dari rumahnya yang berbeda kecamatan. Jalanan yang dilalui juga tidak mudah karena berkontur bebatuan dan banyak yang rusak.

Sudah 19 tahun Nono menjadi guru dengan status honorer. Saat awal menjadi guru tahun 2002, Nono seringkali harus mengajar di gubuk tengah sawah, kebun, atau di rumah muridnya, sebab banyak anak-anak enggan pergi ke sekolah meski sudah mendaftar. 

“Jadi jemput bola, kita yang datangi ke rumah atau ke tempat mereka main. Biasanya mereka enggak mau ke sekolah, lebih memilih pergi ke sawah atau ke kebun,” kata Nono saat ditemui tim ACT Subang di rumahnya di Cirangkong, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Selasa (14/9/2021). 

Sarah Yusra dari tim ACT Subang mengatakan, meski perjuangan Nono begitu besar, apresiasi tidak sepadan dengan apresiasi yang ia terima. Sampai saat ini, statusnya masih guru honorer dengan gaji Rp500 ribu di bawah UMK Kabupaten Subang. Bahkan Nono pernah digaji kurang dari Rp100 ribu. 

“Saat ini pak Nono berjualan tanaman hias dan menanam sayuran untuk tambahan pemasukan sehari-hari,” ujar Sarah, Ahad (19/9/2021). 

Sarah menambahkan, untuk meringankan beban ekonomi keluarga Nono, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup, Selasa (14/9/2021). “Meski gajinya kecil, Nono tidak pernah menyesal menjadi guru dan akan tetap menjadi guru untuk mewujudkan generasi yang cerdas. Ini patut diapresiasi,” pungkas Sarah.[]