Noor Banu Kehilangan Anak pada Tragedi Kebakaran Cox’s Bazar

Noor Banu tak hanya sekali berurusan dengan tragedi kebakaran. Kehilangan anak karena kebakaran menjadi luka yang perih yang selalu terngiang

Kebakaran menghanguskan ribuan tempat tinggal pengungsi Rohingya. (ACTNews)

ACTNews, COX’S BAZAR — Kebakaran kamp 22 Maret menjadi yang terparah sepanjang yang dialami pengungsi Rohingya. Ribuan rumah lebur menjadi abu. Belum ada yang bisa menjawab kemana mereka harus pergi setelah insiden kebakaran itu. Beberapa jam setelah kebakaran, tampak warga hanya berlindung di bawah atap yang selamat dari lalapan api.

Di antara ribuan warga Rohingya yang mengungsi, Noor Banu (32) berkeliling mencari anaknya, Muhammad Karim (11) yang hilang sejak kebakaran dua minggu lalu. Pengungsian Rohingya dia datangi satu persatu, berharap anaknya sedang menumpang di gubuk orang lain.

Keluarga lainnya juga dihubungi untuk memberi kabar kehilangan Karim. Namun, hingga hari ini anaknya tak kunjung kembali. Ia merasa, kebakaran beberapa waktu lalu telah merenggut nyawa anaknya. Sambil terisak, ia merasa sangat pilu dengan kenyataan yang ia alami. “Saya tidak bisa lagi menanggung penderitaan ini,” ujar Banu dikutip dari Reuters.

 

Noor Banu tak hanya sekali berurusan dengan tragedi kebakaran. Di Myanmar ia juga melihat secara langsung rumah yang selama ini ia tinggali dilahap api. Bukan hanya kehilangan rumah, ia juga harus merelakan dua anaknya akibat insiden ini.  Kehilangan tiga anak karena kebakaran adalah pengalaman terburuk yang dialami Noor Banu.

Kebakaran lalu juga menyisakan luka di kaki Noor Banu. Luka itu telah dirawat oleh relawan setempat. Namun, luka ini bukan hal besar baginya, ia masih hidup. Kehilangan anak adalah luka yang perih yang selalu terngiang.[]