Nur Azizah Berjuang untuk Kesehatan Anaknya

Shauqi (14) sedang berjuang melawan kelumpuhan otak yang dialaminya sejak lahir. Nur Azizah, ibunda Shauqi, dengan keterbatasan biaya tak kenal lelah memastikan kondisi anaknya tetap baik-baik saja.

ACTNews, GRESIK Shauqi Ahsana Nasid (14), yatim yang tinggal bersama ibu dan kakaknya di Panceng, Gresik, Jawa Timur kini harus berjuang melawan sakitnya. Ia divonis mengalami Cerebral Palsy atau kelumpuhan otak. Walau kondisi perekonomian keluarga yang masih prasejahtera, sang ibu tetep berjuang untuk anaknya.

Nur Azizah (48), ibu Shauqi, tak mengenal kata lelah untuk kesembuhan anaknya. Dengan pendapatan Rp 900 ribu per bulan sebagai buruh lepas, Nur tetap semangat memberikan pengobatan terbaik bagi anaknya. “Cukup saya kehilangan suami dan kembaran Shauqi,” ungkap Nur, Ahad (7/7).

Shauqi merupakan anak kembar dari Nur Azizah, namun kembaran Shauqi meninggal dunia saat masih balita. Mereka lahir prematur. Sedangkan Shauqi mengalami gangguan dalam perkembangannya. Kini Shauqi hanya dapat terbaring lemah, ia tak dapat berjalan, bahkan sekadar berdiri pun tak mampu.

Sejak Mei 2019, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melakukan pendampingan medis terhadap Shauqi. Di samping pengobatan medis yang mengandalkan jaminan kesehatan BPJS, Nur membawa Shauqi untuk berobat alternatif.

“Kondisi Shauqi memaksa ia tak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Untuk urusan makan, Shauqi juga harus meminum susu khusus serta makanan yang mudah dicerna dengan cara dihaluskan terlebih dahulu,” jelas Dipo Hadi dari Tim Program ACT Jawa Timur, Ahad (7/7).

Melihat kondisi kesehatan Shauqi serta keluarganya yang masih prasejahtera, ACT sejak Mei lalu melakukan penggalangan dana secara daring melalui Kitabisa.com. Masih menyisakan 42 hari lagi penggalangan dana, namun donasi yang terkumpul telah melebihi target Rp 200 juta.

Pada Ahad (7/7) kemarin, ACT menyambangi kediaman Shauqi di Gresik. Di sana ACT menyerahkan donasi yang terkumpul kepada Nur Azizah. “Dana ini akan digunakan untuk pengobatan Shauqi juga usaha sebagai perbaikan ekonomi keluarga,” ungkap Dipo.[]