Nurmis yang Ikut Topang Kebutuhan Keluarga

Dampak pandemi begitu terasa bagi Nurmis, seorang ibu asal Aceh. Barang dagangannya sering tak laku terjual, sehingga berdampak besar pada ekonomi keluarganya.

Tim ACT Aceh menjumpai Nurmis yang kehujanan bersama anaknya di lapak dagangan yang hanya beralaskan tikar di Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

ACTNews, BANDA ACEH Menjelang maghrib dengan cuaca kurang bersahabat di Aceh pada pertengahan Agustus lalu masih dimanfaatkan seorang ibu bersama anaknya duduk di pinggir jalan. Ia terduduk di samping sepeda motornya dengan keranjang yang berisi dagangan dan bermodalkan sedikit spanduk kecil. Sesekali menoleh ke arah kendaraan yang melintas, berharap ada satu atau dua yang menepi membeli timphan, makanan khas Aceh yang ia jual. Memang tak banyak, kurang dari 10 kotak, namun itu pun tak habis terjual hingga menjelang malam.

Kak Nurmis sapaannya, berasal dari Gampong Lampeuneurut, Ujong Blang, Aceh Besar. Setiap pukul 3 sore, beliau membawa dagangannya ke Ulee Lheu, salah satu jalur lintas yang ramai dilalui orang-orang. Kak Nurmis memiliki 4 orang anak, di mana anak pertamanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kak Nurmis ikut membantu sang suami mencari nafkah dengan berjualan timphan, karena sang suami hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Namun akhir-akhir ini suami beliau jarang mendapat pekerjaan. Ditambah mertua kak Nurmis yang juga sedang sakit dan banyak memerlukan biaya untuk pengobatan.

Timphan yang Nurmis jual merupakan produk sendiri. Ia memproduksinya setiap hari hanya 10 kotak dengan harga Rp15 ribu per kotaknya. Di masa pandemi seperti ini, Nurmis khawatir jika memproduksi banyak timphan, karena dagangannya sering tak laku dan pernah juga beberapa kali orang memesan tapi tidak jadi diambil.

Ketika tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh datang dan memborong dagangan yang Nurmis bawa serta memberikan tambahan sebagai modal,  rasa senang tak lagi dapat terbendung.

“Alhamdulillah, bisa bayar SPP anak yang masih TK. Terima kasih ya Allah,” ungkapnya sambil terisak.

Borong dagangan seperti yang Nurmis rasakan merupakan salah satu program yang ACT jalankan sebagai salah satu solusi UMKM di tengah pandemi. Sasarannya merupakan pelaku usaha kecil dan mikro prasejahtera yang merasakan sepi pembeli.

“Semua barang dagangan yang diborong kemudian dibagikan ke warga yang membutuhkan secara gratis. Sehingga, kebaikan bisa terus mengalir,” jelas Rikar Maulana, Staf Program ACT Aceh.[]