Oase di Tengah Masa Darurat Permodalan Usaha Mikro

Saat pandemi pinjaman modal usaha pun sulit didapatkan dengan berbagai macam syarat. Padahal saat ini, para pelaku UMKM sangat memerlukan bantuan permodalan.

Bantuan modal usaha untuk UMKM.
Seorang penerima Wakaf Gerobak di Bogor. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Nyaris satu tahun pandemi terus merebak. Jumlahnya bahkan telah menyentuh angka 1 juta kasus pada 27 Januari lalu. Selain kesehatan yang terdampak, berdasarkan hasil survei Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) Indonesia menyebutkan pelaku usaha kesulitan mendapatkan bahan baku produksi. Survei dilakukan terhadap sebanyak 1.100 UMKM di 15 provinsi dan sebanyak 605 di Jawa sementara sisanya di luar Pulau Jawa.

Survei bulan Agustus 2020 itu juga menyatakan, pelaku UMKM juga mengaku mengalami kesulitan dalam mendistribusikan produk-produk mereka karena Covid-19. Sehingga pelaku UMKM terpaksa harus merumahkan karyawan yang berakibat pada kurangnya SDM.

Persoalan makin membelit ketika modal yang harusnya dapat membantu UMKM, malah sulit mengucur. Sebab banyak permodalan usaha yang kini disertai bunga. Suko Rini selaku Direktur Program Wakaf Ekonomi Produktif Global Wakaf – ACT bahkan mengatakan di beberapa negara, pinjaman mematok tenor hingga tahunan.

“Jadi semakin panjang tenornya, berarti semakin banyak bunganya. Dan itu bukannya membantu usaha mikro, tetapi malah mencekik. Ini menjadi alasan bahwa kemudian kita, Global Wakaf – ACT menyebut bahwa dunia saat ini sedang darurat permodalan usaha mikro,” jelas Suko dalam Gelar Wicara Wakaf Penggerak Ekonomi Umat pada Kamis (11/2/2021) ini.


Gelar wicara Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia (UMI). (ACTNews)

Di tengah kondisi inilah, Global Wakaf – ACT menghadirkan program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia. Selain memberikan bantuan modal tanpa biaya adminitrasi, agunan, tanpa tenor yang memberatkan,  serta bunga, Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia juga memberikan pendampingan agar usaha para penerima manfaat dapat berkembang.

“Jadi di situ juga ada pendampingan usaha. Kita ingin perbaiki skill entrepreneurship, kemudian kita juga ingin perbaiki branding-nya, packaging-nya kalau belum baik. Kadang juga pencatatan antara usaha dan konsumsi keluarga itu juga masih campur, sehingga pencatatan usaha kita tambahkan menjadi salah satu menu pendampingan. Dari aspek spiritual juga kita sampaikan,” jelas Suko.

Aktris Fenita Arie yang menjadi salah satu pembicara mengapresiasi gerakan Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia. “Bayangkan ketika kita sekarang mencoba membantu para pelaku usaha ini, mungkin baru satu atau dua orang, tapi ternyata mereka berhasil membangun usaha mereka. Lalu mereka juga membantu orang sekitar yang membutuhkan modal usaha juga, lalu terus mungkin puluhan, ratusan, jutaan dan mungkin akan lebih besar lagi,” katanya.


Perkembangan itu perlahan dirasakan oleh Muji. Tadinya ia telah berjualan peyek sekitar 10 tahun, dan setelah mendapatkan Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia, ia bisa mengembangkan usahanya menjadi usaha bakso. “Kalau waktu jualan peyek dan donat saya keliling dan nitip-nitip di warung. Semenjak saya dapat modal, berkembang untuk jualan bakso tapi sambil masih bikin peyek juga,” ceritanya.

Meskipun ia mengakui penghasilannya belum kembali ke normal, ia tetap bersyukur dan berharap nantinya semua akan kembali seperti semula. “Kan semua juga (terdampak) se-Indonesia, bukan cuma saya saja. Jadi bersyukur saja, yang penting rajin, telaten, sabar,” ujar Muji. []