Omicron Mengganas di Afrika, Krisis Makin Parah

Covid-19 varian Omicron merebak cepat di Afrika. Hal ini membuat krisis kemanusiaan semakin parah menerjang Benua Hitam.

varian Omicron di Afrika
Varian Omicron merebak cepat di Afrika. (Dok. Anadolu Agency)

ACTNews, AFRIKA – Sejak kasus pertama muncul pada akhir November 2021, Covid-19 varian Omicron menyebar cepat di Benua Hitam, Afrika. Kurang dari satu bulan, varian Omicron telah menjadi tipe yang dominan di negara-negara di Afrika, khususnya Afrika Selatan.

Sebagai perbandingan, butuh sekitar empat minggu bagi varian Delta untuk melampaui Beta yang sebelumnya dominan. Sementara, Omicron hanya butuh dua pekan untuk melampaui Delta menjadi varian dominan.

Meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan varian Omicron kemungkinan tidak lebih berbahaya dibanding varian Delta, namun tingkat penularannya telah terbukti lebih tinggi. Hal ini pun telah menyebabkan kepanikan di berbagai negara di dunia. Sejauh ini, 30 negara Afrika–dan setidaknya 142 di seluruh dunia–telah mendeteksi varian Omicron.

Ironisnya, meski Afrika mencatat kasus paling banyak, tingkat vaksinasi di benua tersebut terbilang sangat rendah. Dari keseluruhan populasi, baru 10 persen yang menerima vaksin dengan dua dosis.

Faktor tersebut pula yang membuat penyebaran virus amat masif di Afrika. Per Ahad (23/1/2022), Afrika telah mencatat lebih dari tujuh juta kasus positif Covid-19 diikuti dengan lebih dari 161 ribu kasus kematian.

Pandemi yang berkepanjangan, membuat krisis kemanusiaan pun semakin parah menerjang Afrika. Pandemi menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga pangan. Hal ini pun mendorong warga miskin Afrika sulit membeli makanan, dan kekurangan daya beli makanan kaya nutrisi. Banyak warga terpaksa menggunakan sampai dua pertiga pendapatannya hanya untuk membeli makanan.[]