Operasi Makan Gratis, Ikhtiar Memenuhi Pangan Masyarakat

Menindaklanjuti Operasi Pangan Gratis yang diluncurkan Kamis (19/3) lalu, ACT menghadirkan program turunan berupa Operasi Makan Gratis untuk masyarakat menengah ke bawah dalam masa pandemik Covid-19. Bekerja sama dengan Koperasi Warteg Nusantara, ACT mengikhtiarkan 100.000 porsi makan bagi masyarakat.

Ibu yang antusias menerima makanan siap santap dari Operasi Makan Gratis. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, TANGERANG SELATAN – Pandemi Covid-19 belum berakhir. Masyarakat masih diimbau bekerja dari rumah, tidak melakukan bepergian, dan tidak berkumpul. Akibat itu, sejumlah sektor kerja informal, seperti pedagang makanan, pengemudi ojek, hingga pengemudi angkutan umum sepi pemasukan.

Juru Bicara Program Operasi Makan Gratis Aksi Cepat Tanggap Bambang Triyono menjelaskan, Operasi Makan Gratis merupakan program turunan respons Operasi Pangan Gratis yang diluncurkan Aksi Cepat Tanggap, Kamis (19/3) lalu. Operasi Makan Gratis menjadi ikhtiar ACT dalam meredam dampak sosial ekonomi di masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah. Terinspirasi dari “operasi pasar”, Operasi Makan Gratis akan dilakukan secara cepat dan masif dengan target 100.000 porsi makanan.

“Sebagaimana yang kita tahu, Gubernur DKI Jakarta telah memberikan seruan kepada masyarakat untuk melakukan jarak fisik. Hal ini memengaruhi aspek ekonomi, terutama masyarakat menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal, seperti pengemudi ojek, para petugas kebersihan, buruh angkut pasar, dan sebagainya,” kata Bambang.

Melihat kondisi itu, ACT mengambil peran menyediakan pangan sebagai ikhtiar membantu kestabilan ekonomi masyarakat menengah ke bawah. “Kami mulai dari para pemilik warung nasi di Jakarta. Kita sudah sangat familiar dengan warung tegal, yang memang melayani masyarakat lapisan paling bawah,” jelasnya. Bambang juga menegaskan, melihat jaringan warteg yang luas, ia yakin tim bisa mencapai lebih dari seribu warteg dalam menjalankan program ini.

Menurut Bambang, omzet rumah makan warteg mulai menurun saat pandemi Covid-19 mewabah. Pelanggan warteg yang bisa dari kalangan pengemudi ojek daring, sopir angkot, hingga karyawan tidak lagi membeli makan dalam waktu dekat ini.

Daya beli masyarakat yang menurun kemudian direspons ACT dengan menggandeng Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara). Di satu sisi, ACT juga membantu pedagang warteg yang mulai mengalami penurunan omzet.

Ketua Kowantara Mukroni (52) menjelaskan, saat ini Kowantara menerima laporan sejumlah pedagang warteg yang mengalami penurunan omzet. “Menghadapi wabah corona ini, orang di rumah, tidak bekerja, dan imbasnya ke pedagang warteg jelas, penurunan omzet hingga lima puluh persen,” akunya.

Mukroni yang juga pendiri Kowantara itu menerima laporan, ada sejumlah warteg di Jabodetabek yang akan tutup karena sudah tidak dapat berjalan lagi dan pedagang khawatir dengan merebaknya wabah. Informasi tersebut didapati Kowantara melalui paguyuban dan media sosial.


Suasana Warteg Putra Bahari Tanjung Duren. (ACTNews/Reza Mardhani)

Mukroni menyebut krisis yang dialami warteg saat wabah corona ini adalah yang paling parah sepanjang usia Indonesia merdeka. “Ini yang menjadi perhatian kita. Wabah ini juga buat (omzet) turun drastis. Tahun ’98 tidak separah ini. ini lebih parah dari tahun ’98 dalam kondisi penurunan omzet,” jelasnya.

Sebagai pelayan kelas menengah ke bawah, pandemi corona membuat efek domino pada keberlangsungan usaha warteg. Laporan ini Kowantara terima secara merata di seluruh warteg Jabodetabek.

“Kami ini kan kebanyakan melayani kelas menengah ke bawah, misalnya sopir, pedagang kelontong, tukang ojek, mereka itu kan kerja serabutan. Jika satu hari mereka tidak mendapat penghasilan, mereka bisa sama sekali tidak ke warteg karena hari ini tidak mendapatkan pendapatan,” jelas

Kerja sama Kowantara dengan ACT disebut Mukroni sebagai oase di tengah krisis pandemi corona. Pasalnya, sejumlah pedagang warteg yang tadinya ingin tutup warung dapat kembali usaha sekaligus menolong sesama.

“Ini sangat bermanfaat untuk warteg. Pertama mereka punya pendapatan. Lalu pelanggan yang tidak punya income bisa makan gratis dari ACT. Teman-teman yang kelas menengah ke bawah jadi terbantu,” jelas Mukroni.

Kowantara didirikan 2011 dengan anggota hingga 1.000 pedagang warteg. Mukroni mengaku, secara keseluruhan komunitas warteg terdiri hingga 40.000 anggota.[]