Operasi Pertama Rifqi Setelah Menderita Bocor Jantung Bertahun-tahun

Raut Rifqi, bocah asal Bireuen yang mengalami bocor jantung, pertengahan September ini telah kembali terlihat cerah. Walau kasa masih melintang di dadanya dan menutupi luka pascaoperasi, kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelum operasi. Pendampingan pengobatan Rifqi merupakan satu dari sekian banyak manfaat zakat yang masyarakat salurkan.

Operasi Pertama Rifqi Setelah Menderita Bocor Jantung Bertahun-tahun' photo
Rifqi (kiri) saat ditemui di kamar indekosnya yang berada di samping RS Harkit, Jakarta Barat. Kehadiran bocah kelas 2 di salah satu SMP di Bireuen itu untuk melakukan pengobatan jantung bocor. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Kain kasa dengan lebar kurang dari 1 sentimeter dan panjang lebih kurang 7 sentimeter kini melintang di dada Muhammad Rifqi (12) asal Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen. Ditempelnya kain itu bukan tanpa alasan. Walau usianya terhitung belia, bocah kelas 2 SMP itu sudah harus menerima beberapa jahitan pascaoperasi jantung yang kini jahitannya ditutup dengan kasa. Pada 8 September lalu, Rifqi menjalani operasi untuk pertama kalinya untuk menyembuhkan sakit itu.

Ditemui di indekosnya yang tak jauh dari Rumah Sakit Harapan Kita, tempat Rifqi dioperasi, Rabu (16/9), kondisinya saat ini terlihat sehat. Makannya lahap, ia pun bisa diajak untuk berjalan, walau tak boleh terlalu lelah. Pascaoperasi, jahitan di dada Rifqi tidak boleh terkena air. Untuk itu, Fadhil (53), ayah Rifqi, hanya mengusap tubuh anak pertamanya itu agar tetap bersih.

“Paling setiap pagi sama sore dielap saja pakai kain basah (kecuali bagian jahitan operasi) biar bersih sama segar,” jelas Fadhil.

Di Jakarta, Rifqi hanya ditemani ayahnya. Ibu dan dua adiknya tetap berada di Bireuen. Mereka berdua sampai di Jakarta pada 13 Agustus lalu untuk menyiapkan operasi di RS Harapan Kita setelah mendapat rujukan dari salah satu rumah sakit di Banda Aceh. Sejak berangkat dari rumah, tinggal di Jakarta hingga kembali ke Bireuen nanti, semua biaya dipenuhi oleh Global Zakat-ACT serta dana yang terkumpul dari penggalangan dana lewat Kitabisa.com.

Fadhil, ayah Rifqi, mengungkapkan rasa bahagianya ketika Global Zakat-ACT bakal melakukan pendampingan penuh untuk pengobatan Rifqi, mulai dari Bireuen hingga Jakarta dan kembali lagi ke Bireuen. Pria yang berprofesi sebagai buruh tani itu memang merasa sedih tentang kondisi kesehatan anaknya. Namun, ia sama sekali tak takut anak pertamanya itu akan dioperasi ke Jakarta.

“Saya dan Rifqi tidak takut waktu dirujuk ke Jakarta, karena saya tahu ini jalan kesembuhan untuk Rifqi,” ujar Fadhil.

Tibanya Rifqi di Jakarta bukanlah yang pertama kali. Pada 2019 lalu, ia juga menjalani pengobatan di RS Harapan Kita dengan bantuan salah seorang kerabat. Namun, pengobatan tidak sampai masuk tahap operasi, sehingga kondisi Rifqi yang dinyatakan mengalami bocor jantung tidak berubah. Bocah kelas 2 SMP itu tetap mudah mengalami kelelahan.

Ekonomi prasejahtera

Tahun 2018 silam menjadi puncak sakit yang Rifqi alami mempengaruhi kondisi fisiknya. Berat bocah itu hanya sekitar 20 kilogram. Bibir, tangan, dan kaki anak pertama dari pasangan Fadhil dan Nurwaida itu mengalami pucat. Bahkan, unjung jari-jari Rifqi mengalami pembengkakan. Siswa salah satu SMP negeri di Peusangan Selatan itu pun tak dapat maksimal dalam mengikuti pelajaran, khususnya olahraga karena ia tak sanggup untuk melakukan aktivitas yang melelahkan. Ia juga sering mengalami kondisi mengigil.

Baru tercapainya pengobatan Rifqi di tahun 2020 pun bukan tanpa sebab. Kondisi ekonomi keluarga yang prasejahtera menjadi alasan. Ayah dan ibu Rifqi hanya bekerja sebagai buruh tani dengan gaji yang rendah. Sedangkan anak-anak mereka masih usia sekolah semua, bahkan anak terakhirnya baru berusia empat tahun. Akan tetapi, Fadhil tak kenal lelah. Perlahan ia menyisihkan uang dari hasil kerjanya untuk membawa Rifqi berobat ke rumah sakit hingga akhirnya bertemu dengan tim dari Masyarakat Relawan Indonesia dan Global Zakat-ACT Aceh.

“Saya sangat berterima kasih kepada Global Zakat-ACT dan seluruh dermawan. Anak saya sekarang memiliki harapan untuk jadi ustaz (cita-cita Rifqi),” ungkap Fadhil.

Global Zakat sendiri merupakan lembaga yang menghimpun dana zakat masyarakat. Berbagai program dijalankan dari dana ini, salah satunya program Mobile Social Rescue yang melakukan pendampingan medis, Rifqi salah satu pasiennya. Program ini pun berlangsung dalam jangka panjang dan sangat membutuhkan keterlibatan masyarakat. Koordinator MSR Nurjannatunaim mengatakan, bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi dalam aksi MSR, bisa menyalurkan zakatnya melalui laman Indonesia Dermawan.[]

Bagikan

Terpopuler