Paket Idulfitri Obati Trauma Anak-Anak Pattani

Para dermawan melalui ACT, bahagiakan ratusan anak-anak prasejahtera di Thailand Selatan.

ACTNews, THAILAND SELATAN - Semarak Idulfitri tetap terasa di Provinsi Pattani, Thailand Selatan, sekalipun perasaan was-was tersisa pada penduduk di sana. Pasalnya, sekitar satu minggu lalu, tepatnya 28 Mei 2019, sebuah bom meledak di pasar Ramadan di Nong Chik, Pattani, akibat konflik internal berkepanjangan di negeri mereka.


Namun di tengah kesulitan tersebut, kebahagiaan terukir dari senyum anak-anak Pattani yang hari itu mendapatkan paket Idulfitri yang didistribusikan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT). Setidaknya bantuan dari para dermawan kali ini, dapat mengurangi trauma dan ketegangan yang mesti mereka lalui di tengah Idulfitri serta mengembalikan lagi keceriaan mereka di hari kemenangan.

“Anak-anak yang menerima hadiah Idulfitri dari para dermawan ini, berasal dari keluarga yatim dan merupakan korban musibah konflik di Pattani. Ada 150 anak yang menerima hadiah Idulfitri,” ujar Sucita Ramadinda dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT pada Sabtu (8/6).

Selain membagikan hadiah untuk Idulfitri, Sucita mengatakan ACT juga mendistribusikan sebanyak 100 paket pangan dan 1.000 iftar untuk keluarga prasejahtera di wilayah di Thailand Selatan pada Ramadan lalu. Bantuan dari para dermawan di Indonesia ini didistribusikan pada 26 Mei hingga 3 Juni 2019 lalu di Provinsi Yala, Narathiwat, Songkhla, dan Pattani.


“Wilayah Thailand selatan ini memang rawan konflik internal sejak lama sehingga masyarakatnya banyak yang hidup di tengah kesulitan karena konflik. Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringankan kesulitan tersebut terutama di hari raya ini,” kata Sucita.

Konflik memang kerap meletus di wilayah Pattani dan tidak jarang malah menjadikan warga sipil, termasuk anak-anak dan remaja, sebagai korbannya. Seperti disinggung sebelumnya, AFP mengutip pihak yang berwenang di daerah itu, melaporkan bom meledak di pasar Ramadan di Nong Chik. Peristiwa ini menewaskan seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dan seorang perempuan berusia 38 tahun di wilayah yang mayoritas berpenduduk muslim tersebut.

Kejadian ini menambah panjang daftar korban akibat konflik yang tak kunjung selesai semenjak 2004. CNN Indonesia mencatat semenjak awal konflik, sekitar 7.000 orang telah tewas akibat bentrokan yang kerap terjadi di wilayah Thailand Selatan itu. []