Palestina dan Krisis Air Bersih yang Tak Berkesudahan

Di Palestina, air menjadi barang langka. Blokade serta tercemarnya sumber air menjadi faktor utama krisis air bersih di sana. Untuk itu, ikhtiar ACT terus berlanjut dengan menghadirkan Humanity Water Tank, yang mendistribusikan air bersih ke masyarakat Palestina.

Palestina dan Krisis Air Bersih yang Tak Berkesudahan' photo
Anak di Palestina yang mengalirkan air dari ACT ke wadah yang telah disiapkannya. Di Palestina, air menjadi kebutuhan utama yang terbatas jumlahnya. (ACTNews)

ACTNews, JALUR GAZA – Konflik kemanusiaan serta penguasaan paksa wilayah Palestina oleh Israel berdampak panjang hingga saat ini. Selain memakan korban jiwa, konflik juga membuat jiwa yang masih hidup tak tenang dalam menjalankan kehidupan. Kemiskinan merajalela, jumlah pengangguran pun terus bertambah, belum lagi sumber daya yang semakin krisis serta kebutuhan pokok manusia, yakni air, yang kian sulit didapat.

Krisis air bersih yang terjadi di Palestina bukan tanpa sebab. Selain akibat blokade yang dilakukan Israel sehingga pasokan air Palestina menjadi krisis, juga karena pencemaran air. Tercemarnya air di Palestina akibat kontaminasi bahan berbahaya yang digunakan selama konflik terjadi.

Public Radio International melaporkan, sejak 20 tahun lalu, 85 persen air minum di Gaza terkontaminasi. Pada 2018, mereka menemukan fakta memprihatinkan bahwa kadar kontaminasi meningkat menjadi 97 persen. Padahal, mengonsumsi air terkontaminasi adalah masalah serius bagi kesehatan. Sejumlah penyakit seperti diare, penyakit ginjal, pendek (stunting), hingga gangguan kecerdasan adalah risikonya.

Konflik kemanusiaan berkepanjangan memang menimbulkan dampak buruk bagi penduduk Palestina. Selain rumah mereka yang direbut oleh pihak dari Israel, kontaminasi dari bahan berbahaya yang digunakan saat konflik terjadi juga menimbulkan pengaruh berkepanjangan, khususnya kesehatan dari makhluk hidup yang memanfaatkan air di Palestina.

Merespons krisis tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) rutin mengirimkan air bersih ke berbagai titik di Palestina, khususnya Jalur Gaza. Juni ini, ribuan liter air terdistribusi dengan jumlah penerima manfaat sampai 1.804 rumah warga. “Pendistribusian ditujukan bagi masyarakat prasejahtera dan tak memiliki pekerjaan. Air tersebut bisa dimanfaatkan penduduk Palestina untuk konsumsi serta kebutuhan sehari-hari lainnya,” jelas Said Mukkafiy dari tim Global Humanity Response - ACT, Rabu (7/7).

Selama satu bulan itu, pendistribusian air yang menggunakan Mobile Water Tank ACT yang disiagakan di Palestina itu telah menjangkau beberapa titik. Antara lain Rafah, Nuserait, Dair Al Balah, Al Zawayda, Al Buraji Camp,  Wadi, Beit Hanoon, Jabalia, Al Shojayia, Alsha'f,  serta Shoshaa'a Beit Hanoon. Wilayah-wilayah itu banyak dihuni masyarakat prasejahtera.

Perlu diketahui, selain krisis air bersih, konflik kemanusiaan yang terjadi di Palestina juga berdampak pada banyak hal. Tak selama 24 jam penduduk Palestina menikmati aliran listrik. Akibatnya, berbagai sektor terpengaruh, termasuk penggunaan alat kesehatan di rumah sakit. Bahan bakar juga sangat sulit didapatkan, hal ini terjadi setelah adanya blokade Israel atas berbagai akses keluar-masuk barang ke Palestina.[]


Bagikan