Pandemi Memaksa Budi Berutang Membeli Ponsel agar Bisa Mengajar

Pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan daring. Sebagai guru jasmani dan olahraga, Herwahyudi Budhi terpaksa harus berutang untuk membeli ponsel pintar agar bisa mengajar.

guru budhi
Budhi saat sedang mengajar praktik di lapangan. (ACTNews)

ACTNews, PEKALONGAN – Herwahyudi Budhi harus berutang agar bisa membeli ponsel pintar untuk keperluan mengajar. Baginya, kegiatan belajar mengajar secara daring merupakan pengalaman baru selama 14 tahun ia menjadi guru. Setiap harinya, Yudi hanya menggunakan ponsel jenis lama. 

Sebagai guru yang mengajar mata pelajaran kesehatan jasmani dan olahraga, Yudi jarang menyampaikan pelajaran di dalam kelas. Bahkan pelajaran yang ia ajar lebih banyak praktik langsung di lapangan dibanding teori. Sehingga ia berpikir tidak memerlukan ponsel pintar keluaran terbaru untuk menunjang pekerjaannya. 

Saban hari menggunakan ponsel jadul. Enggak bisa zoom atau video call. Karena saya pikir (guru jasmani dan olahraga) enggak perlu. Tapi karena pandemi Covid-19, jadi saya harus beli biar bisa ngajar,” katanya, Jumat (1/10/2021). 

Budhi bersyukur saat ini pembelajaran tatap muka sudah kembali diadakan meski terbatas. Namun ia masih harus membayar utang yang pernah ia ambil untuk membeli ponsel sementara gajinya sebagai guru Rp700 ribu per bulan belum cukup untuk membayar utang. 

“Jadi nyicil, karena (gaji dipakai) buat makan sehari-hari juga,” ujar pria yang mengajar di sekolah dasar Kandang Panjang, Kota Pekalongan ini.

Untuk meringankan beban Yudi, Global Zakat-ACT memberikan biaya hidup, Jumat (1/10/2021). Selain Yudi, bantuan biaya hidup juga diberikan kepada sembilan orang guru honorer prasejahtera di Kota Pekalongan.[]