Pandemi Mengunci Aktivitas Warga Gaza

Setelah didapati adanya satu keluarga yang positif Covid-19 di salah satu pengungsian di Gaza, otoritas pemerintahan setempat memilih lockdown seluruh kota pada Selasa (25/8) lalu. Terbatasnya kegiatan membuat warga Gaza yang telah lama hidup dalam kesulitan akibat konflik, bertambah cobaannya akibat pembatasan aktivitas.

Pandemi Mengunci Aktivitas Warga Gaza' photo
Salah satu bangunan pertokoan yang tutup di saat lockdown di Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Setelah menerapkan lockdown, Gaza kini bak kota mati. Hampir semua toko tutup, jalanan pun sepi. Hanya beberapa toko kebutuhan pokok yang diperkenankan untuk buka, dan beberapa orang yang keluar rumah juga memiliki urusan-urusan mendesak, bukan sekadar cari angin.

“Jadi, otoritas Palestina di Gaza sekarang mengunci semua Jalan Gaza selama 48 jam, dan ini akan berlanjut selama seminggu. Ini berarti tidak ada kegiatan. Toko-toko, pasar, fasilitas, layanan, tutup sekarang,” ungkap Jomah al Najjar, seorang mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza.

Pemandangan ini terjadi sejak Selasa (25/8) lalu, saat Gaza mengumumkan kasus positif corona pertamanya. Juru bicara Pemerintah Gaza mengatakan empat kasus virus corona terkonfirmasi pada satu keluarga yang tinggal di kamp pengungsi. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, keempat kasus Covid-19 terungkap setelah seorang perempuan melakukan perjalanan ke Tepi Barat. Di kota ini perempuan tersebut dilaporkan positif terjangkit virus Covid-19.

Otoritas Kesehatan di kota ini juga mengkhawatirkan atas kombinasi kemiskinan, kamp pengungsi yang padat dan fasilitas rumah sakit yang terbatas dalam menangani wabah. Lockdown Gaza pun terjadi di tengah kembali memanasnya perbatasan Israel dan Gaza dipicu warga Palestina menerbangkan puluhan balon ke wilayah selatan Israel sebagai bentuk protes awal Agustus lalu. Israel membalasnya dengan meluncurkan roket-roketnya dan melakukan serangan udara.


Pihak keamanan setempat sedang menjaga jalanan di Gaza. (ACTNews)

"Tidak ada perang yang pernah memaksa orang menerapkan jam malam yang ketat namun virus lemah ini telah mengurung dua juta orang di Jalur itu. Semua rudal dan tank Israel tidak bisa melakukan hal itu," kata Freih Abu Middain, mantan menteri kehakiman di Gaza, menuliskan di media sosial.

Mengingat semua kondisi sulit yang dialami Gaza pada masa pemberlakuan lockdown saat ini, masyarakat di Gaza tentunya membutuhkan uluran tangan dari masyarakat lainnya di dunia. Jomah yang juga merupakan anggota dari Panitia Darurat Covid-19 di Gaza mengatakan, makanan dan alat sanitasi menjadi kebutuhan mendesak saat ini.


“Di sini, di Gaza, masyarakat hidup dalam keadaan yang sangat genting menghadapi virus ini. Sebagai anggota Panitia Darurat Covid-19 di Gaza, (saya menyampaikan) hal yang paling dibutuhkan dari masyarakat saat ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan penambahan fasilitas kebersihan. Dan hal ini menjadi hal yang sangat mendesak bagi masyarakat Palestina yang hidup di bawah garis kemiskinan dan pengangguran,” ujarnya.

ACT juga turut mengajak para dermawan di Indonesia untuk menunjukkan kepedulian mereka kepada masyarakat yang berada di tanah Palestina. “Kita bisa bayangkan, betapa sulitnya mereka hidup terhimpit oleh pandemi, tuntutan ekonomi, dan perang. Oleh karenanya, kami mengajak para dermawan semua untuk memberikan bantuan terbaiknya kepada saudara-saudara di Palestina, khususnya Gaza,” ajak Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT. []

Bagikan

Terpopuler